Semi Annual Survey dan Monitoring Kualitas Data CSO Mitra SUM2 Program
Rabu, 07/08/2013SurveyMETER
SurveyMETER melaksanakan tugas pendampingan dan mentoring kepada Civil Society Organization (CSO) mitra SUM2 Program. SurveyMETER melakukan pendampingan dan mentoring pada kegiatan Semi Annual Survey (SAS) dan Monitoring Kualitas Data (MKD) dari 12 CSO tersebut.
Semi Annual Survey (SAS) dilaksanakan secara serentak oleh 12 CSO pada bulan Februari - Maret 2013. Responden SAS ini adalah kelompok dampingan (KD) dan non kelompok dampingan (Non-KD) yang berada di wilayah dampingan masing-masing CSO. Tugas mentoring SurveyMETER dalam SAS ini adalah membantu CSO untuk mendesain panduan manual dan modul (instrumen) survei, melaksanakan Training Of Trainers (TOT) di dua wilayah, melakukan koreksi, observasi lapangan, serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk menjaga dan menjamin kualitas data.
Kegiatan selanjutnya paska SAS ini adalah pelaksanaan Monitoring Kualitas Data (MKD) dari 12 CSO tersebut. MKD dilaksanakan pada 16 Juni hingga 02 Juli 2013. Kegiatan MKD ini dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD), dimana petugas dari SurveyMETER bertindak sebagai pemandu manajerial dan pelaksana program CSO untuk mengidentifikasi dan melakukan penilaian bersama terhadap permasalahan dan kekurangan dalam manajemen kualitas data, baik pada program-program internal CSO ataupun pada pelaksanan Semi Annual Survey (SAS) 2013. Terhadap permasalahan yang ditemukan tersebut, internal CSO secara bersama-sama akan menentukan tindak lanjut untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan. Bahkan, pada saat MKD ini juga disusun timeline dan penanggungjawab untuk kegiatan-kegiatan tindak lanjut tersebut. [JF]
Mendampingi Guru PAUD Desa Jatimulyo Belajar Mengelola Lembaga, Membuat RKH, serta Berkreasi APE Berbahan Alami dan Barang Bekas
Jumat, 22/03/2013Yogyakarta

Tindak lanjut dari agenda pendampingan PAUD dalam Program Pendampingan PAUD dalam Program Pendampingan Desa SurveyMETER mengadakan Pelatihan Kapasitas Guru PAUD pada Senin (18/03/2013) di PAUD Nur’aini Ngampilan, Kota Yogyakarta. Pelatihan diikuti oleh 33 guru PAUD Desa Jatimulyo, Dlingo, Bantul. Pelatihan dilakukan dengan metode observasi kelas dan diskusi dari pukul 08.00-12.00 WIB.
Menurut koordinator program pendampingan desa Setyo Pujiastuti SSos, materi yang disampaikan antara lain mengenai membuat Rencana Kerja Harian (RKH), membuat APE (alat peraga edukasi) dari bahan alam dan bekas, dan pengelolaan lembaga. Pemateri semua dari pengelola PAUD Nur’aini dibawah pimpinan Ibu Kis Rahayu. PAUD Nur’aini merupakan salah satu PAUD unggulan dan favorit ini di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibu Kis Rahayu adalah ketua Pusat Unggulan PAUD Terpadu Provinsi DIY selain menjadi dosen jurusan pendidikan guru PAUD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Tujuan pelatihan ini untuk meningkatkan Kapasitas Guru PAUD di Desa Jatimulyo yang kebanyakan tidak memiliki latarbelakang pendidikan keguruan ataupun pengajaran PAUD. Menurut Setyo, pelatihan ini akan dilanjutkan pada tanggal 27 Maret 2013 di Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo. “Nanti Ibu Kis Rahayu dan Pengelola PAUD Nur’aini yang gantian datang ke Desa Jatimulyo. Materinya adalah micro teaching, materi ke-PAUD-an, dan melanjutkan materi membuat APE dari bahan alam,” cerita Setyo.
Menurut Setyo, konsep dan teknis keterlibatan SurveyMETER dalam kegiatan ini adalah selain menawarkan konsep pelatihan, juga mendampingi dan memfasilitasi pembicara dan tempat pelatihan. “Untuk pelatihan lanjutan tanggal 27 nanti, malah mereka (pengelola PAUD Desa Jatimulyo) yang mempersiapkan konsep teknisnya,” tukas Setyo. [JF]
Pendampingan CSO Mitra Kerja SUM2 Program
Rabu, 13/03/2013SurveyMETER
Program SUM2 (Scaling up the HIV Response Among Most-at-risk Populations) adalah bentuk dukungan dan kerjasama Pemerintah Indonesia dan Amerika dalam upaya penanggulangan HIV di Indonesia yang dimulai pada tahun 2010 sampai 2015. Kerjasama ini sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1993 sampai tahun 2010 melalui HAPP (HIV/AIDS Prevention Project, dilanjutkan dengan Program ASA I (200-2005), Program ASA II (2005-2010).
Program SUM dirancang untuk meningkatkan intervensi aktif, Komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan dengan menyediakan dukungan kepada instansi pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerja dalam program pengendalian HIV/AIDS. Dukungan yang diberikan oleh SUM akan terfokus 3 hal yaitu yang pertamaPeningkatan kapasitas teknis dan kinerja organisasi yang dibutuhkan untuk menjalankan intervensi aktif, komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan yang dapat berdampak kepada peningkatan pemanfaatan layanan dan perubahan perilaku kelompok beresiko tinggi secara signifikan dan terukur, kedua Peningkatan kapasitas pengelolaan informasi strategis untuk merepon permasalahan HIV/AIDS, pada kelompok resiko tinggi. Salah satu bentuk bantuan untuk aspek informasi strategis ini adalah survailens terpadu biologis dan perilaku serta monitoring dan evaluasi dan yang ketiga Menyediakan dan memantau dukungan dana yang akan diberikan kepada organisasi masyarakat sipil/LSM untuk mendorong perluasan intervensi efektif, terintegrasi, dan berklanjutan pada kelompok resiko tinggi di wilayah dimana terdapat populasi MARPPs dalam jumlah besar dan tingkat penularan HIV yang tinggi. (www.sum2.or.id).
Untuk dapat memberikan dampak yang signifikan, Program SUM2 bekerja di sejumlah kota di 8 provinsi dengan MARPs (Most-at-risk Populations) tertinggi yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Papua, dan Papua Barat.
Keterlibatan SurveyMETER
SurveyMETER terlibat pada program SUM2 mulai Oktober 2012 untuk periode awal selama 1 tahun, dalam kapasitasnya untuk monitoring dan evaluasi CSO (Civil Society Organization) yang bekerja dalam program pengendalian HIV/AIDS, sama halnya dengan Provider yang lain (Penabulu, Satunama, dan Circle untuk pengembangan organisasi dan pengelolaan keuangan). SurveyMETER melakukan pendampingan CSO di wilayah DKI Jakarta 8 CSO dan Jawa timur 7 CSO. Diharapkan dengan keterlibatan SurveyMETER di program SUM akan mendorong kemandirian CSO terutama dalam hal monitoring dan evaluasi khususnya berkaitan dengan produksi data, kualitas data, manajeman data, analisis data, serta program berkaitan dengan program entry data dengan penggunaan software.
Lebih khusus peranan SurveyMETER dalam program SUM2 adalah untuk memastikan pelaporan bulanan CSO tepat waktu dengan kualitas data yang baik; untuk membangun kapasitas CSO dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data untuk pelaksanaan yang lebih efektif (Biaya dan pelaporan) termasuk penggunaan teknologi mobile phone; melakukan pembelajaran kajian kualitatif kepada CSO secara periodik (diskusi kelompok terfokus, misalnya) dari populasi kunci yang tugasnya untuk mengetahui hambatan pemanfaatan pelayanan; melakukan pendampingan dalam pengelolaan data manajeman yang baik bagi CSO termasuk didalamnya pelaporan; dan mendampingi dan menastikan pelaksanaan Semi Annual Survey 2013 oleh CSO.
Ruang lingkup kegiatan yang dilakukan oleh surveyMETER mengarah kepada; membangun rencana kerja bagi CSO terutama monitoring dan evaluasi terkait pengetahuan dan keterampilan; mengembangkan kemampuan CSO terutama dalam monitoring dan evaluasi; mengembangkan sebuah tolls untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi; mengembangkan data CSPro berbasis web; mengembangkan teknologi mobile phone untuk penjangkauan CSO; mendampingi dan mengembangkan Semi Annual Survey 2013 dan kajian kualitatif bagi CSO; dan mengembangkan bantuan teknis kepada CSO dalam melakukan monitoring dan evaluasi. Langkah konkrit dari upaya SurveyMETER dalam program pendampingan ini adalah dengan menugaskan 4 mentor, 2 di DKI Jakarta dan 2 di Jawa Timur, yaitu Henry Setyo Nugroho, Oki Petrus Laoh, Rangga Fauzian Andika, dan Angky Bayu Putrantyo. Sementara koordinator program sendiri adalah Dani Alfah MPA yang juga sebagai Koordinator Bagian Pendampingan dan Pengembangan Wilayah SurveyMETER. [DA/JF]
Upaya Memproduksi Data Desa yang Murah dan Berkualitas
Untuk mematangkan program Pendampingan Desa khususnya dalam penyusunan profil desa, pada tanggal 25/02 lalu tim pendamping dari SurveyMETER mengadakan kegiatan “Diskusi Penyusunan Profil Desa” dengan narasumber Bapak Agus Akhmadi dari Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bantul.
Menurut koordinator program, Setyo Pujiastuti, diskusi ini adalah persiapan sebelum terjun langsung ke lapangan untuk mendampingi Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo dan Desa Guwosari Kecamatan Pajangan dalam proses pembuatan profil desa.
Program Pendampingan Desa 2013
Jumat, 22/02/2013SurveyMETER

SurveyMETER Berbagi Pengetahuan di Kabupaten Bantul
Program Pendampingan Desa merupakan Program Knowledge Sector SurveyMETER yang dilaksanakan dibawah struktur Divisi Pendampingan dan Pengembangan Wilayah. Dalam satu tahun bulan, dua desa akan dinilai serta didampingi oleh tim pendamping SurveyMETER dalam hal pelembagaan sistem administrasi desa, pelayanan publik dasar, dan penyusunan profil desa. Beberapa bulan selanjutnya, direncanakan akan dilakukan pendampingan PAUD dan kelompok lanjut usia di dua desa tersebut.
Latar belakang yang mengilhami dan mendorong program ini—seperti disampaikan koordinator program Setyo Pujiastuti S.Sos, adalah bahwa desa merupakan unjung tombak pembangunan sehingga ketersediaan data profil desa sangat penting. Karena sesuai dengan Permendagri No. 12 Tahun 2007 data profil desa adalah dasar perencanaan program-program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Data desa juga sangat dibutuhkan dalam proses pelaksanaan, pengawasan, maupun evaluasi pembangunan.
Persoalan pelembagaan sistem administrasi desa terutama sistem administrasi pelaporan desa dan peningkatkan pelayanan publik dasar yang baik terutama pelayanan kesehatan lansia dan pendidikan usia dini (PAUD) juga masih mengkhawatirkan. Berdasarkan Bantul dalam Angka tahun 2012, pertumbuhan Lansia rata-rata di atas 10% per-tahun. Tahun 2011 populasi penduduk lansia (umur 60 tahun keatas) di Kabupaten Bantul mencapai 111.750 orang, 49.892 laki-laki dan 61.858 perempuan. Sementara menurut hasil survei di Yogyakarta menunjukan sebagian besar guru PAUD adalah kader-kader desa yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak usia dini, tetapi tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan atau pengajaran PAUD.
Langkah tim pendamping SurveyMETER diawali dengan mencari informasi tentang profil desa ke Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Pemkab Bantul. Dari sini diperoleh keterangan, sebenarnya Pemkab Bantul melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa telah berupaya untuk mendorong dan mendampingi desa-desa dalam menyusunan data profil. Namun, memasuki tahun 2013 ini masih banyak desa yang belum menyelesaikan laporan data profil tahun 2012.
Selanjutnya tim pendamping yang berjumlah 7 orang (Dani Alfah (Penanggungjawab), Setyo Pujiastuti (Koordinator), Fita Herawati, Edy Purwanto, Sukamtiningsih, Muhammad Mulia, dan Nur Suci Arnashanti) melakukan observasi lapangan. “Dari 5 desa di 5 kecamatan yang kami kunjungi, semuanya belum menyelesaikan data profil desa tahun 2012. Kendala yang dihadapi desa dalam penyusunan profil umumnya adalah kurang dana, kurang SDM, dan peralatan. Padahal berdasar hasil pengamatan kami, sebetulnya desa-desa tersebut bisa menggerakkan partisipasi dari kader-kader yang ada di masyarakat untuk membantu menyukseskan pendataan,” papar Setyo.
Kantor PMD Bantul kemudian merekomendasikan 4 desa untuk disurvei terlebih dahulu yaitu Desa Karangtengah kecamatan Imogiri, Desa Argosari Kecamatan Sedayu, Desa Guwosari Kecamatan Pajangan, dan Desa Jatimulyo Kecamatan Dlingo. Dari 4 desa yang direkomendasikan tersebut oleh tim pendamping dipilih dua desa yang akan didampingi yaitu Desa Guwosari dan Desa Jatimulyo .
Secara umum tujuan dari program pendampingan desa ini adalah untuk membantu memfasilitasi, mengenali, dan mengembangkan potensi desa serta menumbuhkan kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Secara terinci tujuan program pendampingan desa ini adalah; terwujudnya desa yang memiliki data yang baik (cakupan data, updated, berkualitas) dengan mendampingi penyelesain pembuatan profil desa tahun 2012; pelembagaan sistem administrasi desa yang baik terutama sistem administrasi pelaporan desa; dan meningkatkan pelayanan publik dasar yang baik terutama masalah kesehatan lansia dan pendidikan usia dini (PAUD).
“Kepedulian SurveyMETER terhadap kesejahteraan lansia ini akan diwujudkan dalam kajian dan pendampingan terhadap kelompok lansia.Untuk pendampingan kelompok lansia akan dilakukan di dua desa melalui penyuluhan kesehatan kepada lansia dan keluarganya.Sementara masalah guru PAUD, kami merencanakan kegiatan peningkatan kapasitas dalam mengajar. Karena PAUD ini sangat penting sebagai pra-pendidikan dasar untuk menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas,” papar Setyo lebih lanjut sambil menjelaskan kegiatan pendampingan ini sudah dimulai sejak Desember 2012 lalu. [JF]
Kegiatan Program Knowledge Sector 2013
Selasa, 12/02/2013SurveyMETER
SurveyMETER melaksananakan komitmennya untuk menyusun dan menindaklanjuti independent research sendiri dan kegiatan pendampingan. Kegiatan ini sudah dilaksanankan sejak 2 tahun terakhir atas suport dari Knowledge Sector Australian AID melalui The Asia Foundation. Seperti yang diungkapkan perwakilan Knowledge Sector Australian AID Benjamin Davis beberapa waktu lalu bahwa Knowledge Sector Australian AID memberikan cost support untuk lembaga penelitian dalam mentransformasikan diri dengan mengadakan penelitian yang tidak dianggap ‘pesanan.’
Tahun 2013 ini SurveyMETER melakukan empat studi independen secara serentak plus satu program pendampingan. Lima independent agenda yang sedang digarap tersebut adalah; Studi Puskesmas Santun Lansia (SPSL), Studi Asesmen Kapasitas Kota Ramah Lansia (SKRL), Studi Kebijakan Berbasis Data (SKBD), Studi Edukasi Nutrisi (SEN), dan Program Pendampingan Desa. Program Pendampingan Desa ini mengambil lokasi di Kabupaten Bantul dan sudah memulai kegiatannnya pada Desember 2012 lalu.
Hingga hari ini, kegiatan keempat studi tersebut masih berjalan. SEN dan SKBD memasuki minggu terakhir pengumpulan data lapangan sementara beberapa tim SKRL sudah ada yang kembali dari lapangan. Sementara SPSL sudah menyelesaikan kegiatan pengumpulan data lapangan. Bahkan menurut koordinator studi ini, Sunar Indriati SH, kegiatan studi ini sudah memasuki tahap akhir cleaning data. “Awal bulan Maret depan sudah memasuki proses analisa yang dipersiapkan untuk penulisan papernya,” ujar Indra, pangilan akrabnya. [JF]
Lokakarya Penuaan Penduduk dan Pembangunan: Dokumentasi, Tantangan, dan Langkah Lanjut
Jumat, 21/12/2012SurveyMETER

PENUAAN penduduk sudah menjadi isu dunia pada abad 21 ini, terutama di negara-negara maju. Masalah penuaan penduduk ini sudah menjadi isu sosial, politik, dan ekonomi, termasuk juga di Asia. Jepang dan Korea adalah contoh negara dengan jumlah penduduk lansia yang tinggi. Kedua negara tersebut sudah aktif membuat dan melaksanakan program pembangunan yang berkaitan dengan penuaan penduduk, di mana program pembangunan di sana sudah dikaitkan dengan penuaan penduduk. Dapat dikatakan penuaan penduduk merupakan keberhasilan pembangunan, karena orang bisa menjadi hidup lebih lama karena mendapatkan gizi yang baik, sanitasi yang baik, pendidikan yang baik, kesehatan yang baik, dan seterusnya. Pada tahun 2025, diperkirakan Indonesia akan mempunyai prosentase penduduk lansia yang sama dengan Singapura, namun dengan angka pendapatan perkapita yang amat jauh lebih rendah dari Singapura. Lantas bagaimana Indonesia akan mampu membiayai penuaan penduduk ini? Jumlah peningkatan penduduk lansia juga sangat tinggi. Diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 32 juta jiwa dan tahun 2030 mencapai 40 juta jiwa dan melampaui angka penduduk di bawah 15 tahun. Penduduk lansia memerlukan penanganan yang khusus. Apakah Indonesia sudah siap dengan hal ini?
Itulah sebagian sambutan dan sekaligus pengantar forum dari Ibu Bondan S Sikoki SE MA selaku Direktur SurveyMETER mewakili Organizing Committe dalam pembukaan lokakarya “Penuaan Penduduk dan Pembangunan: Dokumentasi, Tantangan, dan Langkah Lanjut”. Acara ini diselenggarakan SurveyMETER bekerjasama dengan Yayasan Emong Lansia UI, Centre for Ageing Studies University of Indonesia, The Asia Foundation, dan Australian Aid. Acara berlangsung di The Phoenix Hotel Yogyakarta tanggal 19 – 20 November 2012. Lokakarya ini berlangsung dua hari dengan menghadirkan 29 pembicara dan 150 peserta yang merupakan para pemangku kepentingan masalah penuaan penduduk, baik dari pemerintah, masayarakat, LSM, akademisi, maupun lembaga internasional.
Pada hari pertama acara hadir Wakil Menteri Kesehatan RI Prof dr Ali Gufron Mukti MSc, PhD yang menyampaikan keynote speech-nya, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dr Sarminto MKes mewakili Gubernur DIY yang membuka acara dengan simbolik, perwakilan dari Direktur Pelayanan Sosial Lanjut Usia Departemen Sosial RI Drs Mulyo Johni MSi, Knowledge Sector AUSAID Benjamin Davis, Ketua Komnas Lansia Dr Toni Hartono, perwakilan dari BAPPENAS Dr Maliki, ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono MA, PhD, dan para steering committe lokayarya; Prof Tri Budi W Rahardjo, Dra Eva A J Sabdono MBA, dan Bondan Sikoki SE, MA.
Dukungan dari AUSAID untuk Indonesia
Dalam sambutannya, perwakilan Knowledge Sector AUSAID, Benjamin Davis mengatakan bahwa tujuan AUSAID melakukan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia dengan berbagai cara. Salah satunya adalah menghadirkan hasil penelitian yang dapat digunakan untuk membuat kebijakan. Selain itu dengan mendukung instansi pemerintah untuk menggunakan hasil penelitian tersebut. Juga berperan sebagai perantara atau intermediari antara pembuat kebijakan dengan pembuat kajian.
Benjamin sendiri mengaku spesialisasinya adalah public policy sehingga ia memposisikan diri sebagai murid yang ingin belajar banyak dari para pembicara lokakarya tersebut. Ia juga menceritakan bahwa AUSAID telah bekerja sama dengan The Asia Foundation untuk mendukung lembaga pengetahuan seperti SurveyMETER yang selama 2 tahun terakhir ini telah memposisikan diri sebagai lembaga pengetahuan di Indonesia. AUSAID memberikan dana kepada lembaga pengetahuan untuk mengembangkan diri dan khususnya mengadakan penelitian yang tidak dianggap pesanan. Untuk itu AUSAID memberikan kesempatan kepada lembaga pengetahuan untuk mengadakan penelitian sendiri dan juga untuk menindaklanjutinya.
Menurut Benjamin, SurveyMETER dan lembaga penyelenggara lokakarya ini telah mengambil tindakan strategis untuk mendorong isu penuaan sekaligus sebagai yang pertama mengangkat isu ini. Forum semacam ini, menurut Benjamin, diharapkan bisa terjadi lebih sering, karena merupakan ruang antara pembuat kebijakan dan pembuat kajian untuk menperdebatkan isu-isu, dalam hal ini masalah penuaan. Selain itu, sangat tepat untuk pertemuan ini diadakan di Yogyakarta, karena angka penduduk lansia-nya paling tinggi di Indonesia. Tujuan lokakarya ini adalah untuk menyoroti masalah penuaan penduduk di Indonesia dari berbagai perspektif, seperti sosial, ekonomi, dan budaya. Menurut Benjamin, masalah penuaan juga merupakan masalah yang dihadapi Australia. “Peserta lokakarya ini berasal dari berbagai institusi. Semoga hasil diskusi tidak berhenti di ruang ini. Saya mengharapkan akan bisa tercipta common ground antara pembuat kebijakan dan pembuat kajian terkait menangani masalah penuaan.” ujar Benjamin dalam sambutannya.
Dengan kegiatan ini, seperti yang disampaikan Bu Bondan dari SurveyMETER, diharapkan dapat menjadi wadah untuk saling bertemu dan berdiskusi semua pemangku kepentingan tentang isu penuaan serta mendokumentasikan apa yang sudah dilakukan, tantangan apa yang dihadapi, dan apa langkah tindak lanjut yang akan dilakukan. Juga diharapkan akan menjadi forum untuk berbagi informasi, berdiskusi, dan mencari kesamaan untuk saling bekerja sama serta merumuskan rencana tindak lanjut. Diharapkan pula setelah lokakarya tersebut, bisa terbentuk jaringan sosial untuk isu penuaan penduduk ini. Sementara Benjamin mengharapkan di forum tersebut dibahas berbagai isu, misalnya cara-cara yang paling efektif untuk mendukung dan membiayai penduduk tua, bagaimana sistem kesehatan Indonesia dapat melayani lansia, apa sistem jaminan hari tua/sistem pensiun yang paling cocok untuk Indonesia, apa peran sektor swasta di sini, apa peran sosio-budaya dan bagaimana peran keluarga dan masyarakat dalam hal ini.
Paradigma yang harus dihapus
Sementara Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kesehatan DIY dr Sarminto, M Kes mengatakan bahwa penuaan merupakan proses alamiah dalam hidup yang tidak mungkin ditolak. Penuaan akan diikuti dengan penurunan fungsi tubuh, sehingga akan berkurang produktivitasnya. Lansia seringkali di-stigma-kan sebagai sakit-sakitan dan tergantung pada orang lain. Jumlah lansia meningkat karena meningkatnya usia harapan hidup dan menurunnya jumlah kelahiran.
Menurut Sultan, dalam sambutannya, persoalan biaya akan menjadi isu sentral. Indonesia akan mengalami ledakan jumlah pensiunan PNS pada tahun 2025. Karena itu pemerintah, juga swasta dan masyarakat, perlu memberikan perhatian khusus, karena dibutuhkan solusi multidimensi terkait penyelesaian masalah ini. Tidak seharusnya masalah lansia ini dianggap sebagai beban, melainkan para lansia harus diberdayakan agar mandiri, karena jika tidak, selain berdampak pada produktivitas, juga akan berdampak pada masalah kesehatan. Paradigma yang mengarahkan bahwa lansia itu “sudah habis dan tidak berguna” harus dihapuskan. Karena jumlah lansia yang berguna masih lebih banyak dibandingkan dengan yang sudah tidak berguna. Sultan juga berharap melalui acara ini dapat dipetakan permasalahan dan tantangan, serta bisa didapatkan masukan dan saran, serta program untuk lansia. Juga diharapkan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat bisa semakin sinergis, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup lansia beserta keluarganya.
Sedangkan Prof dr Ali Gufron Mukti, MSc, PhD selaku Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam keynote speech-nya dengan judul “Pengalaman Pemerintah: Strategi dan Kebijakan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia,” memaparkan tekad dari Kemenkes RI adalah mengubah pomeo “orang miskin dilarang sakit”, menjadi “orang miskin kalau sakit dilarang bayar”, melalui berbagai program. Dalam konteks pemeliharaan kesehatan lansia, payung hukumnya sudah jelas yaitu pasal 138 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam pasal 138 tersebut dikatakan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi lansia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial ekonomi sesuai dengan martabat kemanusiaan.
Undang-undang tersebut menjadi acuan dari tujuan Pembangunan Kesehatan yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, agar dapat hidup produktif dan sejahtera secara sosial dan ekonomi. Maka, menurut Ali Gufron, pemerintah wajib menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomi. “Kita harapkan masyarakat akan mendapatkan standar pelayanan minimal. Pemerintah sudah menyelenggarakan PP (peraturan pemerintah) terkait lansia, yaitu menyangkut masalah kegaamaan, kesehatan, dan pelayanan umum, misalnya bagaimana lansia bisa mendapatkan layanan yang ramah, seperti ketika naik bis tempatnya lebih diutamakan, dan juga terkait penggunaan fasilitas publik.” papar Ali Gufron.
Kebijakan Program Kesehatan Lansia
Tujuan umum dari peraturan pemerintah tersebut adalah meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdayaguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Sedangkan tujuan khususnya adalah meningkatkan kesadaran para lansia untuk membina sendiri kesehatannya, meningkatkan kemampuan dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam peningkatan kesehatan lansia, dan meningkatkan jenis, jangkauan, dan mutu pelayanan kesehatan bagi lansia. Menurut Ali Gufron program-program pemerintah yang sudah dikembangkan adalah:
- Peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para lansia di pelayanan kesehatan dasar, khususnya Puskesmas melalui konsep Puskesmas Santun Lansia.
- Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lansia melalui pengembangan Poliklinik Geriatri di Rumah Sakit yang saat ini baru ada 8 Rumah Sakit tipe A dan B.
- Peningkatan penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan dan gizi bagi lansia.
- Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan dan pembinaan Kelompok Lansia/Posyandu Lansia di masyarakat.
- Peningkatan mutu perawatan kesehatan bagi lansia dalam keluarga (Home Care) yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan program Perawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas maupun di Rumah Sakit.
- Peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan lansia melalui Dana Sehat dan Jamkesmas.
Setelah selesai rangkaian acara pembukaan tersebut dilanjutkan dengan agenda Presentasi Sesi pertama. Berikut adalah pelaksanaan seluruh agenda 8 presentasi/ forum kegiatan dan materi yang disampaikan.
HARI PERTAMA
Presentasi Sesi 1: Pengalaman dari Pemerintah
GKR Hemas (Wakil Ketua DPD RI) dibawakan oleh Dr Nahiyah J Faraz MPd—“Lansia dan Pembangunan: Antara Harapan dan Tantangan”
Dr Yulia Suhartini (Direktur Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kemensos RI) dibawakan oleh Drs Mulyo Johni MSi (Kasubdit Advokasi dan Pelayanan Sosial Lanjut Usia, Kemensos RI)—“Program Pelayanan Sosial Lanjut Usia”
Dr. Maliki Achmad PhD (BAPPENAS)—“Penuaan Penduduk dan Pembangunan: National Transfer Account sebagai Salah Satu Dokumentasi Pendukung Analisis Sistem Penunjang Penduduk Lanjut Usia”
Dr Toni Hartono (Ketua II Komnas Lansia)—“Pengalaman dari Pemerintah”
Moderator: Prof Tri Budi W Rahardjo (Centre for Ageing Studies University of Indonesia)
Presentasi Sesi 2: Pengalaman dari Masyarakat
Sabrin O Ladongi SAg, MM (Yayasan Al Kautsar Palu)—“Peran Generasi Muda dalam Pembinaan Lansia”
Fajarina Lathu Asmarani SKep, Ns, MSN (Pelayanan Lansia di Masyarakat, FIKES Universitas Respati Yogyakarta)—“Community Services”
Ruliyandar SE, MKes (Golden Geriatric Club)—“Golden Geriatric Club (Sekolah untuk Lansia dan Pra Lansia)—Mulia Dua Foundation”
Prof Dr Haryono Suyono MA PhD (Ketua Yayasan Damandiri)—“Pemberdayaan Menyongsong Peran Lansia dalam Pembangunan”
Moderator: Dra Eva AJ Sabdono MBA (Yayasan Emong Lansia UI)
Presentasi Sesi 3: Pengalaman dari LSM
Prof Dr dr Luh Ketut Suryani (Suryani Institute)—“Program Membina Lanjut Usia di Bali: Tua Berguna, Bahagia, dan Sejahtera”
Dr Rohadi Haryanto MSc (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahtraan Sosial)—“Peran serta Organisasi Sosial dalam Menghadapi Penuaan Penduduk”
Dra Hj Budi Wahyuni MM MA (PKBI Yogyakarta)—“Kesehatan Seksual di Usia Tua, Sebuah Kebutuhan yang Tertunda”
Dr Siti Hariani MSc (Yayasan Pelita Usila)—“Pengalaman dalam Pengembangan Program Lanjut Usia di Indonesia”
Dra Eva AJ Sabdono MBA (Yayasan Emong Lansia UI)—“Promoting Mutual Support Through Older People’s Associations in Indonesia/ Mempromosikan Saling Dukung Melalui Lembaga-lembaga Lansia di Indonesia”
Moderator: Bondan S Sikoki SE, MA (SurveyMETER)
Presentasi/Forum Sesi 3a : Kebijakan untuk Lansia di Masa Depan
Dr Nugroho Abikusno (InResAge Trisakti University Jakarta)—“Ageing in Indonesia in The Future”
Prof Bambang Purwoko MA, PhD (Dewan Jaminan Sosial Nasional)—“Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional Berbasis Kesempatan Kerja untuk Perluasan Kepesertaan Semesta Tahun 2014”
Dr Fiona Howell (TNP2K) disampaikan oleh Dr Jan Piebe—“ Pathways to Social Pensions in Indonesia: Poverty and Old-Age Income Security/ Langkah Menuju Dana Pensiun Sosial di Indonesia: Kemiskinan dan Pengamanan Penghasilan Lansia”
Moderator: Dr Kharisma Priyo Nugroho (The Asia Foundation)
HARI KEDUA
Presentasi Sesi 4: Pengalaman dari Akademisi
Dr Fatmah SKM, MSc (Dosen FKM Universitas Indonesia)–“Gizi Usia Lanjut: Pengalaman dari Akademisi”
Indrasari Tjandraningsih MA (AKATIGA—Pusat Analisis Sosial)—“Pasar Kerja Fleksibel dan Beban Lansia”
Dr Hilman Latief (Dosen Magister Studi Islam UMY)–“Faith, Elderly and Philanthrophy; Peran Organisasi Filantropi berbasis Keagamaan dalam Menangani Lansia”
Moderator: Dr Evi Nurvidya Arifin (Institute of South East Asian Study, Singapore)
Sesi Refleksi: Lansia Indonesia di Masa Depan
Fasilitator: Dr N W Suriastini MPhil (SurveyMETER)
Perangkum Hasil Refleksi: Dr Lies Marcoes Natsir
Presentasi Sesi 5: Pengalaman dari Lembaga Internasional
Dr Evi Nurvidya Arifin (Institute of South East Asian Study, Singapore)–“Aspek Ekonomi Demografi Penuaan Penduduk”
dr Hernani Djarir MPH (WHO Indonesia)–“Age Friendly City”
Dr NW Suriastini MPhil (SurveyMETER)—“Indicators of Age Friendly City for Planning and Policy Formulation: an Exploratory Analysis/Indikator-indikator untuk Merencanakan Age-Friendly City dan Merancang Kebijakan: Sebuah Eksplorasi Analisis”
Moderator: Dr Aris Ananta (Institute of South East Asian Studies, Singapore)
Sesi 5a: Suara Lansia
Ibu Sumaryati (anggota Dian Kemala)
Ibu Kamira
Ibu Suminah (anggota Dian Kemala)
Ibu Profesor Saparinah Sadli
Bapak Sutjipto
Fasilitator: Dr Lies Marcoes Natsir
Sesi Tambahan
Move with Care: J Puspo Adijuwono
Sesi Kesimpulan
Dr Aris Ananta (Institute of South East Asian Studies, Singapore)
Penutup
Prof Tri Budi W Rahardjo (Centre for Ageing Studies University of Indonesia)
Lokakarya Penuaan Penduduk dan Pembangunan: Dokumentasi, Tantangan, dan Langkah Lanjut
- Tanggal : -
- Lokasi :
GKR Hemas (Wakil Ketua DPD RI) dibawakan oleh Dr Nahiyah J Faraz MPd—“Lansia dan Pembangunan: Antara Harapan dan Tantangan”
Gallery :
Implementasi Program TAF di SurveyMETER
Senin, 20/06/2011
Juli 2010 SurveyMETER terpilih sebagai peserta Program Pengembangan Sektor Pengetahuan untuk kebijakan yang diterapkan oleh The Asia Foundation. Program ini bertujuan untuk mengembangkan suatu institut agar lebih maju dan memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Hal ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh staf SurveyMETER.
Dengan dukungan staf The Asia Foundation berbagai program telah disusun. Secara garis besar program ini dibagi menjadi 2; Capacity Powering Organization dan Capacity Technical Powering. Beberapa kegiatan yang telah dan sedang dijalankan antara lain: Penyempurnaan dan Evaluasi SOP, rapat pembahasan Struktur dan Mekanisme Organisasi dan Inventarisasi Organisasi serta studi banding kapasitas organisasi. Sedangkan untuk Technical Powering Capacity seperti: Stata inhouse training, English training, penulisan makalah, jurnal dan karya ilmiah serta beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat luar, seperti seminar dan workshop.
Setelah 10 bulan, program ini telah menunjukkan hasil yang positif dalam peningkatan kapasitas staf dan lembaga. Hal ini terlihat dari kemampuan staf di bidang analisis data yang mulai meningkat. Peningkatan juga terlihat pada kapasitas kelembagaan. Hal ini terlihat dari banyaknya lembaga dan individu di Indonesia yang mengajukan kerjasama dengan SurveyMETER baik untuk survey maupun dalam penyelesaian studi. (SM)