Evaluasi perilaku pencarian upaya penyembuhan atau pengobatan pada lansia selama pandemi COVID-19 di Bali dan Yogyakarta, Indonesia


Pandemi COVID-19 memiliki risiko tertinggi bagi lansia dengan penyakit penyerta, karena penyebaran virus yang cepat mengurangi akses masyarakat ke fasilitas kesehatan formal. Hal ini mengarah pada pencarian alternatif-alternatif secara medis dari beberapa penyedia layanan kesehatan informal.

Dampak Kematian dan Kehancuran Akibat Bencana terhadap Kesehatan dan Mortalitas dalam Jangka Panjang


Peristiwa ekstrem yang menyebabkan kematian dan kerusakan properti sedang meningkat di seluruh dunia. Kami mendokumentasikan konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan populasi akibat paparan peristiwa ekstrem, gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, yang menewaskan sekitar seperempat juta orang di seluruh dunia.

Puskesmas Merespon Kebutuhan Perawatan Demensia


Prevalensi demensia di kalangan lansia Indonesia semakin meningkat. Puskesmas sebagai penyedia layanan primer memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Hasil-akibat jangka panjang dari gangguan stres pasca-trauma di antara korban tsunami Samudera Hindia di Indonesia


Gangguan stres pasca-trauma (PTSD) setelah bencana dapat berubah seiring waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko PTSD di antara korban tsunami India 2004 di provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Indonesia.

Satu Dekade Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti

Rabu, 15/06/2022

causes

                                       Newsletter Edisi Khusus: Satu Dekade Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti

 

kiri

Selama satu dekade, Knowledge Sector Initiative (KSI) telah melakukan aksi kolektif dalam penguatan ekosistem ilmu pengetahuan dan inovasi untuk mendorong kebijakan berbasis bukti.
Dalam hal tata kelola dan pendanaan penelitian, KSI bersama para mitra telah menanamkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik serta membuka peluang untuk kerja sama antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam hal pendanaan penelitian. 

Sementara dalam hal kolaborasi pengetahuan dan manajemen pengetahuan, KSI telah mendukung manajemen pengetahuan lintas direktorat melalui Manajemen Pengetahuan perencanaan Pembangunan (MP3), integrasi perencanaan dan anggaran yang mendorong perencanaan pembangunan berbasis bukti melalui KRISNA, serta menginisiasi forum terkemuka yang mewadahi para produsen pengetahuan dan pembuat kebijakan melalui Indonesia Development Forum. 

Lebih lanjut, dalam hal produksi pengetahuan, KSI berhasil mendorong 16 lembaga penelitian kebijakan untuk memproduksi riset-riset berkualitas, menjalin advokasi dan hubungan yang baik dengan para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan, serta memengaruhi berbagai kebijakan, baik di tingkat nasional dan subnasional.

Lihat Video

ACARA PENUTUPAN KSI

K2

 

Puncak Acara Penutupan KSI

Puncak Acara Penutupan KSI memberikan kesempatan untuk merefleksikan pencapaian program. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 21 April 2022 dengan tema 'Kolaborasi Satu Dekade: Aksi Kolektif Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti' menjadi perayaan satu dekade bersama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia mendukung pembuatan kebijakan yang lebih baik melalui data dan penelitian/kebijakan berbasis bukti. Acara yang menghadirkan 32 pembicara, termasuk Duta Besar Australia untuk Indonesia dan 4 pejabat eselon I dari Pemerintah Indonesia ini dihadiri secara langsung oleh kurang lebih 70 orang, dengan 1,283 lainnya bergabung secara online. Dalam acara tersebut, seluruh pemangku kepentingan yang terlibat membahas pencapaian KSI, aksi kolektif yang dibangun selama 10 tahun kemitraan, dan komitmen untuk melanjutkan reformasi di bidang pengetahuan setelah program KSI selesai.

PUBLIKASI

ksi11

 

Cerita Perubahan: Satu Dekade Mendorong Perbaikan Tata Kelola Penyelenggaraan dan Pendanaan Penelitian

Cerita perubahan ini mengelaborasi perjalanan KSI bersama mitra-mitranya untuk mendorong perubahan demi mengatasi tiga hambatan pertama yang terkait dengan tata kelola dan pendanaan penelitian. Selama satu dekade terakhir, banyak perbaikan yang telah terjadi. Dokumen ini mengelaborasi, merunut, serta menganalisis perubahan yang terjadi terkait dengan pendanaan penelitian, penguatan aktor strategis, serta visi dan tata kelola penelitian.

Satu hal yang menjadi benang merah dari semua perubahan ini adalah peran aktif mitra-mitra KSI dalam mengidentifikasi isu prioritas, mendiskusikan solusi pilihan, serta mengawal proses perumusan dan implementasi kebijakan terkait.

Dalam hal tata kelola dan pendanaan penelitian, KSI bersama para mitra telah menanamkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik serta membuka peluang untuk kerja sama antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam hal pendanaan penelitian. 

 

kiri4

Cerita Perubahan: Memperkuat Manajemen dan Kolaborasi Pengetahuan 

Cerita perubahan ini memuat perjalanan dan pembelajaran KSI bersama mitra-mitranya dalam rangka memperkuat kolaborasi dan manajemen pengetahuan. Dokumen ini mengelaborasi upaya menghadirkan mekanisme atau ruang formal bagi para aktor nonpemerintah yang memberikan dimensi segar kolaborasi pengetahuan dan memperluas jaringan serta cakrawala kebijakan untuk mendorong proses perumusan kebijakan berbasis bukti.

Dalam ekosistem pengetahuan, lembaga riset dan peneliti sebagai penghasil pengetahuan, media sebagai perantara pengetahuan dan para pengambil kebijakan sebagai pengguna pengetahuan perlu berkolaborasi untuk mendorong kebijakan berbasis bukti yang bermanfaat bagi publik.

 

KR45

Cerita Perubahan: Meningkatkan Produksi Pengetahuan 

Cerita perubahan ini menyajikan pembelajaran dan upaya-upaya yang dilakukan KSI bersama aktor-aktor pengetahuan di Indonesia dengan fokus terhadap aspek insentif riset dan penguatan lembaga penelitian kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas produksi pengetahuan. 

Kolaborasi dengan aktor-aktor kunci menjadi strategi organisasi dalam upaya meningkatkan produksi pengetahuan berkualitas. Adapun prinsip-prinsip berkelanjutan dan inklusivitas, seperti Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), menjadi pedoman dalam mendesain berbagai jenis program relevan sepanjang periode 10 tahun ini.

KSI berhasil mendorong 16 lembaga penelitian kebijakan untuk memproduksi riset-riset berkualitas, menjalin advokasi dan hubungan yang baik dengan para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan, serta memengaruhi berbagai kebijakan, baik di tingkat nasional dan subnasional.

 

KR190

 

SEGERA TERBIT - Knowledge Ecosystem Development: Insights from Indonesia and International Applications

Buku ini mengeksplorasi hubungan dan dinamika aktor-aktor dalam ekosistem pengetahuan di Indonesia. Wawasan dalam buku yang didasarkan pada pengalaman KSI ini ditulis langsung oleh para aktor dalam sistem pengetahuan yang mewakili pemerintah, lembaga penelitian kebijakan, dan media serta praktisi pembangunan yang bekerja pada reformasi dan inisiatif sistem pengetahuan dalam konteks Indonesia. 

Buku ini memuat (1) teori, pengembangan, dan aplikasi sistem pengetahuan; (2) pembelajaran kebijakan dalam siklus kebijakan di indonesia; (3) bekerja dan berpikir politik untuk analis kebijakan; (4) soft institutionalization ekosistem pengetahuan dan inovasi Indonesia yang membahas pemanfaatan media sebagai perantara pengetahuan; (5) bagaimana mendekatkan lembaga penelitian kebijakan dengan pembuat kebijakan untuk pembuatan kebijakan yang berbasis bukti; (6) pembelajaran dari reformasi hukum iptek nasional indonesia; (7) reformasi mekanisme insentif untuk mengakses pengetahuan untuk kebijakan; (8) sistem pengetahuan dalam perspektif internasional, khususnya pengalaman dari program SEDI (Strengthening the Use of Evidence for Development Impact); dan (9) penerapan wawasan dari dinamika sistem pengetahuan sebagai penutup.

ksi bawah

 

Walaupun program KSI telah selesai, namun pengetahuan yang dihasilkan selama satu dekade kolaborasi akan tetap berada di platform berikut:

 

Website KSI (sampai dengan 2025)
Repositori Ilmiah Nasional (RIN)
Manajemen Pengetahuan perencanaan Pembangunan (MP3) Bappenas
Perpustakaan Nasional 

Centre for Strategic and International Studies (CSIS)

 

Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada mitra kami yaitu Pemerintah Indonesia, Pemerintah Australia, lembaga penelitian kebijakan, mitra internasional, masyarakat sipil dan media, serta semua pendukung kebijakan untuk kolaborasi dan komitmennya selama 10 tahun terakhir. Merupakan kebanggaan bagi kami dapat melibatkan para mitra dalam mempromosikan pembuatan kebijakan berbasis bukti untuk kebijakan pembangunan yang lebih inklusif dan adil di Indonesia. Secara khusus, kami berterima kasih kepada Wakil Ketua Komite Pengarah Program KSI, Ibu Amalia Adininggar Widyasanti, Deputi Bidang Ekonomi, Bappenas dan Ibu Kirsten Bishop, Minister Counsellor, DFAT atas arahan dan keterlibatan strategisnya. Kami juga berterima kasih kepada Wakil Ketua Sekretariat Teknis Program KSI, Leonardo Adypurnama alias Teguh Sambodo, Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappenas dan Bapak Simon Ernst, Counsellor for Development Effectiveness, DFAT, atas bimbingan dan dukungannya. Kami turut mengucapkan terima kasih kepada tim Knowledge to Policy DFAT atas kemitraan dan kolaborasi mereka. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh tim KSI atas kerja keras, dedikasi, dan semangatnya untuk sektor pengetahuan di Indonesia. Sekali lagi terima kasih kepada semua mitra KSI atas komitmen Anda terhadap keberlanjutan ekosistem pengetahuan dan inovasi dan untuk terus mendorong aksi kolektif demi kebijakan dan kehidupan yang lebih baik di Indonesia.

Jana Hertz - KSI Team Leader

 

head

 

Peran Orang tua dalam Pandemi: Akankah Covid-19 Meningkatkan Kesetaraan dalam Peran Orang tua?

Selasa, 01/12/2020SurveyMETERDani Alfah, S.Sos, M.P.A.

causes

Pandemi Covid-19 telah membuat terjadinya penyesuaian di setiap aspek kehidupan, termasuk kehidupan keluarga. Para orang tua dari anak-anak berusia di bawah lima tahun telah ditantang untuk menyesuaikan rumah tangga mereka dengan kondisi yang berubah dengan cepat di tempat kerja, di sekolah dan di lingkungan luar. Sehingga, terjadi hubungan yang lebih intensif antara orang tua dan anak-anak mereka, yang berdampak pada pendidikan anak usia dini, serta pembagian tugas orang tua, status pekerjaan, dan kesehatan mental.

Di bawah usia lima tahun, anak-anak dengan cepat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar. Interaksi dengan pengasuh pada tahap kehidupan ini merupakan blok bangunan penting untuk pendidikan anak usia dini.

SurveyMETER melakukan survei telepon, didukung oleh Knowledge Sector Initiative, untuk meneliti keadaan mengasuh balita selama pandemi. Kami ingin melihat bagaimana dampak pandemi - termasuk penutupan sekolah, perintah untuk bekerja dari rumah, dan kehilangan pekerjaan - memengaruhi orang tua dan anak-anak pada tahap kritis kehidupan ini.

Kami menerima respon dari 1.302 rumah tangga yang mempunyai anak kecil di sebuah kecamatan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur - memberikan sampel yang terbatas namun berwawasan luas untuk analisis awal kondisi pandemi di rumah.

Hasil penelitian menunjukkan dampak positif dan negatif dari pandemi pada interaksi orang tua dengan anak kecil, kondisi ekonomi rumah tangga, kesehatan mental pengasuh, dan kesempatan untuk belajar di rumah. Survei juga memberikan pelajaran untuk kebijakan pendidikan anak usia dini dan dukungan untuk orang tua baru

Interaksi orang tua dengan balita meningkat sebesar 38% selama pandemi, tetapi pekerjaan tidak dibagi secara merata antara ibu dan ayah. Para ibu tetap menjadi orang tua yang dominan, dengan 52,1% melaporkan tingkat interaksi yang serupa sebelum pandemi, dan 44,4% melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka. Sementara itu, 44,4% ayah melaporkan tidak ada perubahan pada pola asuh pra-pandemi mereka, dan 38,5% melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat anak.

Pengasuhan dan perhatian dari kedua orang tua penting untuk perkembangan kognitif dan emosional balita, dan ibu serta ayah dapat berkontribusi secara seimbang. Gagasan bahwa mendidik dan mengasuh anak semata-mata merupakan tanggung jawab seorang ibu tentu saja salah tetapi tetap umum di Indonesia, karena pengaruh budaya dan agama.

RUU “Ketahanan Keluarga” yang akan dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tahun ini mengancam untuk mengabadikan peran domestik yang sudah kadaluwarsa dalam undang-undang, yang menetapkan bahwa ibu, bukan ayah, yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Pendekatan ini tidak didukung oleh penelitian tentang perkembangan anak, dan banyak aspek dari RUU tersebut terus dikritik secara luas oleh akademisi, aktivis dan masyarakat luas.

Yang menarik, YouTube tercatat sebagai sumber materi pendidikan yang dominan, digunakan oleh 60,2% orang tua, diikuti oleh televisi publik sebesar 29,8% dan media sosial sebesar 25,4%. Alat berbasis internet lebih banyak digunakan oleh rumah tangga yang pendapatannya meningkat atau tetap sama selama pandemi dibandingkan dengan yang pendapatannya menurun.

Buku mewarnai tersedia di 40,1% rumah tangga, dan teka-teki dan balok di 24,4% rumah tangga. Buku mewarnai disediakan lebih banyak untuk anak perempuan dan teka-teki dan balok untuk anak laki-laki, menunjukkan bahwa banyak orang tua memiliki pemahaman yang mendalam tentang perbedaan gender dalam belajar dan bermain.

Menggambar dan mewarnai mengenalkan anak pada warna, dan memungkinkan mereka mengekspresikan diri, meningkatkan keterampilan motorik, serta mengembangkan kesabaran dan kreativitas. Teka-teki dan blok bangunan merangsang keterampilan motorik lunak, pengenalan warna dan bentuk, serta mendorong imajinasi dan pemecahan masalah. Kedua aktivitas tersebut harus tersedia secara merata untuk anak laki-laki dan perempuan.

Yang paling memprihatinkan, buku cerita hanya tersedia di 10,7% rumah tangga. Untuk rumah tangga di mana pendapatan meningkat atau tetap sama selama pandemi, angkanya hanya sedikit lebih tinggi, yaitu 14,5%, menunjukkan bahwa masalah ini melampaui tingkat pendapatan. Hal ini mengecewakan tetapi tidak mengherankan mengingat rendahnya minat membaca buku di Indonesia yang terdokumentasi secara luas.

Penelitian menunjukkan bahwa membacakan cerita untuk anak-anak sejak usia dini meningkatkan keterampilan bahasa dan literasi, serta kompleksitas bahasa dan pemahaman cerita. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengimbau semua orang tua untuk membacakan kepada anaknya sebelum tidur untuk mendukung pendidikan dan perkembangannya.

Temuan survei menunjukkan bahwa diperlukan upaya yang lebih besar di tingkat akar rumput, mungkin melalui posyandu, untuk menciptakan gerakan yang mendorong orang tua membacakan buku cerita kepada anak-anaknya sejak dini.

Pandemi Covid-19 belum berakhir, dan efek positif dan negatifnya pada pekerjaan, sekolah, kehidupan publik, dan pengasuhan kemungkinan akan tetap terasa untuk beberapa waktu mendatang. Pengalaman anak dan orang tua selama masa pandemi merupakan jalan ke depan untuk kebijakan yang lebih kuat yang dapat mendukung para orang tua dan perkembangan anak mereka dengan lebih baik.

Studi kecil ini menunjukkan bahwa ayah perlu berperan lebih aktif dalam mengasuh anak untuk meringankan beban kerja dan tekanan mental pasangannya, serta mendukung perkembangan anak yang sehat. Hal ini dapat didorong dengan melibatkan para ayah pada tahap awal kehamilan dan menyusui melalui kehadiran mereka di pemeriksaan kesehatan, dan memberikan mereka informasi tentang cara terbaik untuk mendukung pasangan dan anak-anak mereka, termasuk dengan berbagi secara setara dalam tugas-tugas rumah tangga.

Dalam kondisi pandemi atau sebaliknya, diperlukan lebih banyak kesempatan pendidikan bagi balita di rumah. Buku cerita harus tersedia, dan orang tua - baik ibu maupun ayah - harus meluangkan waktu untuk membacakan secara teratur untuk anak-anak mereka. Ini tidak hanya akan mempengaruhi perkembangan anak usia dini, tetapi juga meningkatkan tingkat literasi Indonesia dalam jangka panjang.

Artikel dipublikasikan pertama kali dalam Bahasa Inggris pada 1 Desember 2020 di:

https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/parenting-in-a-pandemic-will-covid-19-boost-equality-in-parenting/

 

Menjadi Pendamping Lanjut Usia Itu Membahagiakan Mereka dan Kami

Jumat, 09/10/2020YogyakartaSiti Musfatun Khasanah

causes
Kegiatan homecare terakhir dari Kader Muda Pendamping Lanjut Usia di Dusun Watugedug Desa Guwosari sebelum masa Pandemi Covid-19, Maret 2020 lalu.

Tidak terasa sudah genap 3 tahun aku dan 6 temanku menjadi pendamping lanjut usia. Aku dan teman-temanku ikut dalam kegiatan pendampingan kegiatan lanjut usia saat masuk kelas 10 SMK. Terus terang, di antara motivasi menjadi pendamping adalah untuk memperoleh beasiswa selama SMK dari SurveyMETER dengan syarat menjadi Kader Muda Pendamping Lanjut Usia dengan terlibat kegiatan kelanjutusiaan di dusun kami, Dusun Watugedug, Desa Guwosari, Kabupaten Bantul.

Setelah mengikuti kegiatan kami seakan lupa dengan motivasi tersebut. Ternyata jadi pendamping lansia itu menyenangkan. Kami hanya perlu menyisihkan sedikit waktu dalam sebulan untuk bisa mendampingi dan memberi sedikit perhatian kepada lanjut usia. Dengan adanya pendampingan lansia setidaknya para lanjut usia tidak merasa tersisih dari kelompoknya, merasa diperhatikan oleh orang-orang sekitarnya, merasa ada orang yang menjadi tempat berbagi keluh kesah, dan tidak lagi merasa harus sendiri tanpa ada perhatian dari orang lain.

Terkadang melihat mereka tertawa lepas bisa membuat perasaanku lega; oh seperti ini toh hasil dari aku menyisihkan sedikit waktu untuk mereka. Senang sekali melihat mereka tertawa ketika kami bercanda di sela kegitan. Setidaknya itu bisa menghilangkan sedikt beban pikiran mereka.

Kegiatan rutin pendamping lansia antara lain, setiap sebulan sekali kami membantu kader posyandu dalam melaksanakan layanan posyandu lansia. Kami cekatan membantu kader untuk mengukur tensi darah, menimbang berat badan mereka dan merekapnya di buku. Tujuan mengukur tensi adalah untuk mengontrol tekanan darah setiap bulannya sehingga kalau ada yang tidak wajar akan dikonsultasikan dengan kader dan tenaga kesehatan di desa.

Sambil menunggu pelayanan pengukuran kesehatan selesai, mereka akan bercengkrama berbagi cerita dengan para lansia lainnya. Pada saat itulah kami sesekali ikut nimbrung sehingga mereka mereka dan kami tertawa gembira.

Selepas pelayanan kami mengadakan ragam kegiatan yang menyenangkan seperti senam, bemain angklung dan sekali-kali outbond. Senam lansia dilakukan dengan instruktur ibu-ibu kader. Sementara instruktur bermain angklung akan memanggilkan pelatih dari luar. Sekitar 20-30 menit senam atau main angklung selesai kita akan beristirahat, kami dan para kader akan membagikan minuman, buah dan makanan untuk mereka.

Oh iya, untuk para lansia yang tidak ada yang mengantar jemput ke posyandu kami adalah penjemput dan pengantar setia mereka dengan sepeda motor.

Kegiatan Outbond yang pernah kita lakukan adalah mengajak dan mendampingi mereka berkeliling situs sejarah Goa Selarong. Kebetulan lokasinya hanya di sebelah dusun kami. Saat outbond tersebut kami mengadakan permainan-permainan sederhana seperti bermain memindahkan air menggunakan botol dan bermain merangkai kata dengan bisikan, dan masih banyak lagi permainan lainnya. Di sela permainan itu gelak tawa membuncah dari mereka dan kami.

Sebulan sekali juga, kami melakukan kunjungan ke rumah (homecare) para lansia dengan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan berangkat ke posyandu. Dalam setiap kunjungan kami melakukan pengukuran tekanan darah dan menayakan keluhan yang dirasakan mengenai kesehatannya. Tak jarang kami ikut mengobrol mendengarkan keluh kesah lainnya yang mereka rasakan. Di akhir kunjungan, kami memberikan bingkisan untuk mereka.

Banyak manfaat yang kami dapatkan selama mendampingi lansia. Di antaranya aku dan teman-teman menjadi lebih menghargai orang tua sendiri, terlebih kepada para lanjut usia. Kami juga memperoleh pengalaman bagaimana hidup bersosial dan berguna bagi masyarakat.

Juli 2020 lalu beasiswa kami telah selesai. Dan, sejak pandemi, tepatnya Bulan April lalu, belum ada layanan posyandu dan pendampingan untuk lanjut usia di dusun kami. Namun di antara kami berniat akan tetap menjadi pendamping mereka sebisanya. Karena kami akan selalu rindu tawa mereka dan bahagia kami menyatu di satu sore, sebulan sekali.

Nasib Posyandu Lansia Saat Pandemi Covid-19

Jumat, 10/07/2020YogyakartaHendri Setyo Nugroho, S.H., M.I.P.

causes

Waktu bergulir melewati bulan keempat sejak kasus Covid-19 pertama kali ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, persentase kematian karena Covid-19 di Indonesia tertinggi dialami kelompok umur ≥ 60 tahun. Seperti yang kita ketahui lanjut usia (lansia) adalah salah satu kelompok rentan dan mudah terpapar Covid-19.

Lalu bagaimana posyandu lansia berperan di tengah pandemi? Pemerintah saat ini sudah berupaya untuk memutus mata rantai penularan virus Korona. Himbauan untuk physical distancing, bekerja, belajar dan beribadah di rumah terus digaungkan. Semua kegiatan yang membuat kerumunan harus dihindari termasuk kegiatan posyandu lansia. Peran posyandu lansia melalui kader sangat penting untuk selalu memonitor kondisi para lansia.

Meski kegiatan posyandu lansia ditiadakan sementara, namun peran kader masih berjalan. Kader berperan memberikan informasi kepada lansia tentang perilaku hidup sehat dan menjaga kesehatan selama pandemi berlangsung. Informasi tersebut diberikan pada saat kader bertemu dengan lansia di jalan atau di masjid. Kader juga membagikan masker kain untuk lansia, baik yang dibeli sendiri dari kas posyandu maupun dari bantuan lembaga lain. Peran lain yang tak kalah penting adalah kerjasama antar stakeholder, seperti dengan pihak RT. Oleh karena cakupan wilayah kecil dan saling berdekatan, maka akan lebih memudahkan dalam memantau kondisi lansia.

Lalu apakah lansia merasakan dampak pandemi Covid-19? Dampak sosial dirasakan lansia dengan tidak adanya posyandu lansia, ternyata menurunkan kesehatan psikologis. Kegiatan posyandu lansia tidak hanya mempertahankan kesehatan fisik agar selalu bugar, namun posyandu lanisa juga sebagai wadah bertemu dengan teman sebayanya, lansia bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi. Pada masa pandemi ini mereka merasa kesepian karena tidak bisa berkumpul.

Selain dampak sosial, dampak ekonomi juga dirasakan oleh lansia. Seperti yang dialami oleh Mbah Marto (70) yang biasanya menjual beras di Pasar Kota Gede Yogyakarta. Namun selama pandemi dia tidak lagi berani ke pasar. Beliau hanya menjual beras di rumah yang berdampak pada berkurang pendapatan. Kisah yang sama, juga dialami oleh banyak lansia lain yang senasib dengan Mbah Marto.

Dampak yang tidak kalah penting adalah kesadaran lansia untuk melindungi diri sendiri masih kurang. Contoh nyata yang terlihat pada saat lansia beraktivitas di luar rumah, banyak yang tidak menggunakan masker. Tidak sedikit juga lansia yang menanyakan kenapa harus pakai masker, kenapa harus di rumah saja.

Keluarga lansia sendiri tidak bisa menyampaikan informasi dengan jelas, lansia banyak yang tidak menonton berita di televisi, kader posyandu tidak bisa banyak berperan di situasi seperti sekarang. Hal ini membuktikan bahwa informasi yang mereka terima tentang Covid-19 masih kurang sedangkan mereka rentan tertular.

Apa yang perlu dilakukan untuk membantu lansia yang terdampak Covid-19?

Kelompok usia lanjut merupakan golongan yang memerlukan perhatian khusus. Sesuai amanah “Panduan Perlindungan Lansia” oleh KPPPA diperlukan peran dari kader posyandu lansia di level masyarakat untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi lansia di masa pandemi Covid-19 dengan melibatkan dan bekerja sama lintas sektor.

Kader posyandu berharap adanya bantuan berupa sembako dan makanan bergizi. Lansia masih kurang diperhatikan, belum ada bantuan yang khusus menyasar mereka. Bantuan lain yang diterima lansia adalah masker kain, sembako, hand sanitizer. Namun demikian bantuan tersebut belum diterima semua lansia di posyandu. Harapannya, jika menyalurkan bantuan pemerintah desa dapat bekerja sama dengan kader posyandu dalam pendistribusiannya.

Tak kalah penting yang harus diperhatikan bagaimana lansia bisa mendapatkan informasi yang tepat dan jelas mengenai Covid-19. Menurut kader posyandu, mereka sebaiknya diberikan informasi dari sumber yang berkompeten, seperti petugas dari puskesmas. Namun di masa pandemi seperti ini, petugas kesehatan sudah memiliki banyak tugas untuk menangani pasien di garda terdepan. Langkah bijak yang bisa dilakukan salah satunya dengan mendokumentasikan informasi tentang Covid-19 dari berbagai sumber terpercaya seperti yang diterbitkan oleh kementerian terkait.

Pemerintah desa bisa membantu melakukan koordinasi untuk pendokumentasian, selanjutnya disampaikan melalui karang taruna, RT, RW, atau kader posyandu. Kader dengan networking yang luas akan menyampaikan informasi kepada lansia. Libatkan juga keluarga dan masyarakat agar secara aktif menjelaskan informasi tentang Covid-19 kepada lansia. Selaras juga dengan pedoman umum menghadapi Covid-19 yang dikeluarkan oleh Kemendagri, bahwa pastikan lansia memperoleh kesadaran dan perlindungan pribadi terkait Covid-19.

_______

*Tulisan pertama kali dipublikasikan di rubrik “INSPIRASI UNTUK KEBIJAKAN” SKH Kedaulatan Rakyat, Edisi Jumat 10 Juli 2020. Untuk melihat versi koran cetak tersebut silahkan klik di sini.

‘Negatif COVID-19 tetapi Positif Hamil': Jalan Terbaik adalah Menunda Bayi Baru

Selasa, 07/07/2020SurveyMETERDwi Oktarina, S.Si., M.P.H.

causes
Life shield: A nurse puts a face shield on a newborn baby at RSIA Tambak Hospital in Central Jakarta on April 16. To slow the spread of COVID-19, medical workers are following strict health protocol. (JP/Seto Wardhana)

Semakin banyak orang tinggal di rumah selama pandemi, kekhawatiran meningkatnya jumlah kehamilan muncul. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil baru-baru ini memposting tangkapan layar di akun Instagram-nya sebuah artikel yang berkaitan dengan peningkatan kehamilan di Kabupaten Cirebon, dan mendesak laki-laki untuk "memperlambatnya" dengan istri mereka. "Negatif COVID-19 tetapi positif hamil," diposting Ridwan.

Terbatasnya akses ke layanan kesehatan selama pandemi ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa semakin sedikit orang yang menerima kontrasepsi. Menurut angka terbaru Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 28 juta pasangan Indonesia menerima layanan kontrasepsi. Namun, dewan memperhatikan penurunan 20 hingga 30 persen pada penerima dari Februari hingga Maret, dengan variasi antar provinsi.

Kekhawatiran akan ledakan bayi dan peningkatan populasi bukan satu-satunya alasan para ahli menyarankan pasangan untuk menunda kehamilan. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, mengatakan ibu hamil rentan selama trimester pertama dan cenderung memiliki ketidaknyamanan kesehatan seperti mual. Sistem kekebalan tubuh mereka juga lebih lemah dari biasanya, dan dengan demikian mereka berisiko lebih tinggi terhadap infeksi. Kami belum sepenuhnya memahami efek infeksi COVID-19 pada janin, atau efek obat pada ibu dan janin yang terinfeksi.

Ibu hamil juga menghadapi lebih banyak pembatasan dalam pemeriksaan kehamilan sebelum pandemi. Jauh sebelum pandemi, angka kematian ibu di Indonesia sudah menjadi masalah besar, dengan angka nasional yang tinggi yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup.

Banyak faktor yang berhubungan dengan virus tetap tidak diketahui. Sementara para peneliti masih berusaha menemukan vaksin, beberapa kasus bayi baru lahir yang terinfeksi virus telah dilaporkan. Di Wuhan, Cina, tempat ditemukannya kasus pertama di dunia, bayi baru lahir menjadi individu termuda yang terinfeksi virus SARS-CoV-2, laporan pada awal Februari mengatakan, mirip dengan bayi baru lahir lainnya pada pertengahan Maret di London. Ibu di Wuhan telah dites positif COVID-19 sebelum melahirkan.

Namun, jurnal The Lancet baru-baru ini menerbitkan sebuah studi pada sembilan wanita hamil dengan COVID-19 yang menunjukkan bahwa penularan intrauterin sangat tidak mungkin. Sampel cairan ketuban, tali pusat, ASI, dan usap tenggorokan bayi baru lahir terbukti negatif terhadap virus.

Dalam hal gizi, pandemi ini dapat membatasi pilihan makanan bergizi ibu, dengan banyak keluarga menghadapi pendapatan yang semakin rendah. Kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi selama kehamilan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi baru lahir. Hal ini dapat menyebabkan stunting, yang sudah menjadi masalah kesehatan nasional utama.

BKKBN telah menempatkan konselor lapangan untuk memberikan layanan kepada pasangan melalui kunjungan rumah. BKKBN juga berencana untuk memberikan kontrasepsi kepada 1 juta penerima pada bulan Juni. Program ini bertujuan untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi di antara mereka yang telah berhenti menggunakan kontrasepsi selama pandemi.

Terlepas dari upaya pemerintah, masih ada kebutuhan mendesak untuk menargetkan lebih banyak orang yang tinggal di rumah. Dibutuhkan lebih banyak kampanye pendidikan untuk menasihati pasangan untuk menunda kehamilan melalui media seperti televisi dan radio. Media terakhir akan menargetkan audiens di daerah yang lebih terpencil di mana transmisi televisi terbatas.

Meskipun sistem kesehatan cukup kewalahan dalam pandemi saat ini, upaya ekstra dapat dilakukan dengan memberdayakan dan memperkuat bidan sebagai konselor dalam mendidik pasangan untuk menunda kehamilan. Asosiasi Bidan Nasional (IBI) mendaftar lebih dari 300.000 bidan di 34 provinsi. Ini tentu akan menantang, tetapi upaya kecil dalam menunda kehamilan dapat membantu mengurangi beban penyedia layanan kesehatan serta ibu dan keluarga mereka selama pandemi.

Relawan dari desa dan kelompok kesejahteraan keluarga (PKK) berbasis desa dan juga bisa diberdayakan. Relawan di seluruh negeri telah dimobilisasi untuk mendistribusikan bantuan makanan kepada rumah tangga yang memenuhi syarat di komunitas mereka. Mereka juga dapat membantu meningkatkan kesadaran di kalangan ibu dan pasangan muda tentang kesehatan ibu dan pentingnya menghindari kehamilan selama pandemi dengan menyampaikan informasi yang benar dengan pamflet atau poster saat mendistribusikan persediaan makanan.

Setiap wanita memiliki hak untuk hamil dan melahirkan anak dan setiap anak memiliki hak untuk tumbuh sehat di lingkungan terbaik. Namun, dalam masa ketidakpastian dan keterbatasan ini, akan lebih bijaksana untuk menunda kehamilan dan menunggu sampai pandemi mereda. Keputusan harus diambil dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan tidak hanya kesehatan ibu, tetapi juga bayi, kesejahteraan keluarga dan kapasitas sistem kesehatan. 

 

Artikel ini dipublikasikan pertama kali dalam Bahasa Inggris di The Jakarta Post, 4 Juli 2020:

https://www.thejakartapost.com/academia/2020/07/04/negative-covid-19-but-positive-pregnancy-best-to-delay-new-baby.html

 

Sebentuk Aksi Kecil untuk Lanjut Usia di Masa Pandemi

Senin, 06/07/2020SurveyMETERAstrid Nikijuluw, Bach. Of Business., M.M.

causes

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi sistem dan tatanan sosial kita dan membuat dunia terhenyak. Di Indonesia, per tanggal 19 Juni 2020, jumlah kasus COVID-19 mencapai 43.803. Dari angka tersebut, 14% adalah para lanjut usia (usia 60 dan lebih tua) dan 44% dari tingkat kematian (2,373 kasus). Ini menunjukkan bahwa jumlah kematian tertinggi dialami oleh kelompok umur ≥ 60 tahun. 

Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh kita melemah. Hal ini membuat para lanjut usia lebih rentan terhadap semua jenis infeksi. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendukung dan melindungi para lanjut usia selama pandemi ini, terutama mereka yang hidup sendiri. Pemerintah harus didukung untuk memberikan intervensi dalam memastikan para lanjut usia mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Dukungan ini dapat mencakup makanan bergizi, kebutuhan dasar seperti sembako, obat-obatan untuk mendukung kesehatan fisik dan akses ke dukungan kesehatan sosial dan mental.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai provinsi dengan tingkat harapan hidup tertinggi di Indonesia, beberapa tindakan dan kegiatan telah diambil oleh berbagai pihak dalam mendukung para lanjut usia selama pandemi. Kami pun berupaya melakukan hal kegiatan kecil sesuai kapasitas kami sebagai institusi penelitian.

Kegiatan kecil kami adalah wawancara pendokumentasian tentang inisiatif dan terobosan pelayanan posyandu oleh kader posyandu lanjut usia di masa pandemi di 5 kabupaten/kota yaitu Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman dan Kota Yogyakarta. Dalam wawancara tersebut kami menemukan bahwa di antara kegiatan kecil mereka selama pandemi antara mendistribusikan masker serta pengetahuan melalui flyer dan poster tentang bagaimana memakai masker dan mencuci tangan dengan benar.

Di satu desa di Kabupaten Kulon Progo, satu inisiatif dari kader posyandu lanjut usia yang cukup solutif adalah mendorong para lanjut usia untuk tetap melakukan kegiatan tambahan seperti berkebun. Selain karena tinggal di desa dan umumnya profesi mereka adalah petani, aktivitas berkebun dapat membantu kondisi ekonomi dan sosial serta menjaga imunitas mereka. Dengan demikian saat berkegiatan tersebut mereka juga masih dapat berinteraksi satu sama lain dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Di satu desa lain di Kabupaten Bantul, organisasi pemuda desa berinisiatif mengumpulkan dana dari warga setempat yang digunakan untuk membeli bahan makanan yang akan didistribusikan kepada warga kurang mampu, termasuk para lanjut usia.

Dari berkegiatan wawancara kecil di masa pandemi tersebut, sungguhnya banyak pelajaran yang dapat kami dan kita pelajari. Bahwa kepedulian kecil masyarakat di semua sektor dan usia dapat berdampak besar dalam kesehatan dan kebahagiaan orang lain. Kita perlu menyadari bahwa tanggung jawab untuk memelihara lingkungan yang sehat dan aman ada di tangan kita semua. Karena seperi disampaikan Presiden Joko Widodo pada Senin 18 Mei 2020, cara paling efektif untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 adalah pada unit masyarakat yang paling bawah. Kita akan bisa mengatasi pandemi ini, namun untuk itu kita harus melakukan upaya aktif demi tetap sehat serta dan aman secara fisik secara mental untuk kita sendiri dan untuk orang-orang di sekitar kita, termasuk para lanjut usia.

Demikian sekilas pembelajaran yang kami petik dari pendokumentasian kami. Kami juga menuliskan catatan dalam versi lain di Buletin Active Aging Consortium Asia Pacific (ACAP) Edisi Juni-Juli 2020 (hlm. 10-11), dengan harapan menjadi pembelajaran masyarakat dan komunitas global. Selengkapnya catatan tersebut dapat dibaca dan diunduh di sini: Sebentuk Aksi Kecil untuk Lanjut Usia di Masa Pandemi

Berlangganan Artikel