WAPOR 75th Annual Conference, Dubai, 10-13 November 2022
Rabu, 30/11/2022

Didirikan pada tahun 1947, World Association for Public Opinion Research (WAPOR) adalah asosiasi peneliti profesional internasional dalam bidang survei dan penelitian opini publik. Tahun ini, konferensi mengambil tema “75 Tahun Penelitian Opini Publik Seluruh Dunia”, dan menghadirkan banyak pembicara terkemuka. Lebih dari 250 peneliti dari 57 negara menghadiri konferensi tersebut.
SurveyMETER – satu-satunya perwakilan dari Indonesia dan pertama yang mengikuti acara bergengsi tersebut – mempresentasikan dua paper dalam forum ini dengan menggunakan data dari World Values Survey (WVS) 2018. Paper yang pertama berjudul “Parents’ perceptions on teaching social values and character to their children at home in Indonesia” dipresentasikan oleh Ibu Ni Wayan Suriastini, Direktur Eksekutif SurveyMETER. Paper ini menyoroti nilai-nilai yang orang tua Indonesia cenderung wariskan kepada anak-anaknya sekaligus melihat latar belakang orang tua yang mempengaruhi isu ini. Paper kedua dengan judul “Internet access and perception on science and technology in Indonesia”, yang dibahas oleh Dwi Oktarina, peneliti SurveyMETER, berpendapat bahwa orang yang mengakses internet setiap hari cenderung memiliki pendapat yang tidak kuat tentang sains dan teknologi daripada orang yang tidak mengakses internet setiap hari. Ibu Bondan Sikoki, pendiri SurveyMETER dan salah satu penulis paper pertama, juga turut hadir dan berpartisipasi dalam acara ini.
Diskusi dan publikasi berkelanjutan sehubungan dengan opini publik dari berbagai negara di dunia memperluas pengetahuan dan wawasan para peserta. Riset yang berfokus pada opini publik sangat penting untuk memastikan suara rakyat didengar dan demokrasi dijalankan dengan baik.
Gejala Demensia Sangat Mungkin untuk Diminimalisir
Rabu, 29/09/2021Yogyakarta

Demikian disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam sambutan pembukaan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembajun Setyaningastutie, M.Kes dalam Sesi 1: “Pelatihan Pengenalan Demensia dan Skrining Kognitif bagi Kader Posyandu Lanjut Usia di DIY”, Selasa (28/09/2021).
Disampaikan Sultan, pemerintah telah berupaya agar lansia tetap produktif secara sosial dan ekonomi dengan tetap memperhatikan keterampilan, usia dan konsis fisik. Dari sisi layanan dengan peningkatan mutu layanan kesehatan lansia yang mengacu kepada Permenkes No. 67 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Layanan Kesehatan Lanjut Usia di Puskemas. Di luar upaya-upaya itu, Sultan menyampaikan, yang harus dipahami bahwa penurunan kualitas hidup merupakan salah satu keniscayaan utama dari lanjut usia sebagai akibat dari menurunnya kesehatan fisik maupun kognitif yang muncul secara degenerasi yang tak bisa dihindari namun sangat memungkinkan untuk diminimalisir.
“Salah penyakit akibat penurunan fungsi kognitif adalah demensia yang dapat merupakan salah satu, beberapa atau gabungan dari kondisi tertentu yang biasanya ditandai dengan penyakit alzheimer. Demensia diakibatkan oleh kerusakan sel otak yang mengganggu komunikasi antar sel, namun bukan berarti selalu menyertai lanjut usia,” dawuh Sultan dalam sambutan tertulisnya.
Pelatihan secara daring tersebut diikuti oleh lebih dari 900 kader kesehatan dari 5 kabupaten/kota se-DIY. Pelatihan juga hadiri oleh para pemangku kebijakan terkait dari dinas kesehatan 5 kabupaten/kota, BKKBN DIY, dan Ketua Komda Lansia DIY. Pelatihan diselenggarakan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Pemerintah Kabupaten/Kota se-DIY dan Alzheimer Indonesia Chapter DIY, atas dukungan dari Knowledge Sector Initiative (KSI).
Materi pelatihan disampaikan oleh Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng, dosen Fakultas Kedokteran, kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM Yogyakarta yang juga sebagai koordinator Alzheimer Indonesia (ALZI) Chapter Yogyakarta. Sri Mulyani menyampaikan terkait; Apa itu demensia, Tanda dan gejala demensia, Tahapan demensia, Jenis demensia berdasarkan penyebab, Membedakan demensia dan bukan demensia dan Menjelaskan tentang macam-macam deteksi dini demensia.
Pemateri kedua Endra Dwi Mulyanto, SE., M.P.H. sebagai peneliti SurveyMETER dalam Studi Kesehatan Lanjut Usia Berbasis Komunitas di DIY tahun 2021. Saat pelatihan juga diperkenalkan cara mengumpulkan data skrining dengan praktik wawancara oleh peneliti-peneliti muda dari SurveyMETER.
Kader Posyandu Lansia belum Memahami Demensia
Sebelum pembukaan pelatihan diberi pengantar oleh Direktur Eksekutif SurveyMETER, Dr. Ni Wayan Suriastini yang menyampaikan poin-poin penting dan rekomendasi dari hasil Studi Kesehatan Lanjut Usia Berbasis Komunitas di DIY tahun 2021 yang mensesus semua puskesmas dan mewawancarai sampel posyandu dan lanjut usia.
Di antara temuan menarik dari studi yang disampaikan Suriastini antara lain: baru 6% dari kader posyandu lansia yang memahami gangguan daya ingat merupakan salah satu gejala demensia dan baru 38% posyandu lanjut usia yang melakukan skrining kognitif sebagai alat deteksi demensia. Padahal, lanjut Suriastini, secara program nasional demensia sudah termasuk dalam Strategi dan Rencana Aksi Kesehatan Lanjut Usia 2020-2024 sebagai salah satu indikator dari Pengembangan Program Kesehatan Lanjut Usia di setiap provinsi dan kabupaten/kota.
“Masih banyak juga menganggap bahwa gangguan daya ingat atau lebih dikenal dengan pikun adalah hal yang biasa terjadi pada lanjut usia. Padahal mungkin saja ini menunjukkan gejala dini tentang demensia yang sampai saat ini belum ada obatnya yang dapat diketahui melalui skrining demensia,” papar Suriastini yang menyampaikan fakta di atas mendorong SurveyMETER untuk berbagi pengetahuan melalui pelatihan ini.
Sebelum pelatihan dimulai, SurveyMETER membagikan secara simbolis poster "AYO KITA CAKeP" ke peserta perwakilan programer lansia di puskesmas dan kader posyandu. Poster tersebut berisi ajakan kepada masyarakat untuk CAKeP: Cek kesehatan dan fungsi kognitif secara rutin, Antarkan lanjut usia ke Posyandu lanju usia/puskesmas/layanan kesehatan dan Perhatikan adanya gejala demensia. (JF)
Peran Orang tua dalam Pandemi: Akankah Covid-19 Meningkatkan Kesetaraan dalam Peran Orang tua?
Selasa, 01/12/2020SurveyMETERDani Alfah, S.Sos, M.P.A.
Pandemi Covid-19 telah membuat terjadinya penyesuaian di setiap aspek kehidupan, termasuk kehidupan keluarga. Para orang tua dari anak-anak berusia di bawah lima tahun telah ditantang untuk menyesuaikan rumah tangga mereka dengan kondisi yang berubah dengan cepat di tempat kerja, di sekolah dan di lingkungan luar. Sehingga, terjadi hubungan yang lebih intensif antara orang tua dan anak-anak mereka, yang berdampak pada pendidikan anak usia dini, serta pembagian tugas orang tua, status pekerjaan, dan kesehatan mental.
Di bawah usia lima tahun, anak-anak dengan cepat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar. Interaksi dengan pengasuh pada tahap kehidupan ini merupakan blok bangunan penting untuk pendidikan anak usia dini.
SurveyMETER melakukan survei telepon, didukung oleh Knowledge Sector Initiative, untuk meneliti keadaan mengasuh balita selama pandemi. Kami ingin melihat bagaimana dampak pandemi - termasuk penutupan sekolah, perintah untuk bekerja dari rumah, dan kehilangan pekerjaan - memengaruhi orang tua dan anak-anak pada tahap kritis kehidupan ini.
Kami menerima respon dari 1.302 rumah tangga yang mempunyai anak kecil di sebuah kecamatan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur - memberikan sampel yang terbatas namun berwawasan luas untuk analisis awal kondisi pandemi di rumah.
Hasil penelitian menunjukkan dampak positif dan negatif dari pandemi pada interaksi orang tua dengan anak kecil, kondisi ekonomi rumah tangga, kesehatan mental pengasuh, dan kesempatan untuk belajar di rumah. Survei juga memberikan pelajaran untuk kebijakan pendidikan anak usia dini dan dukungan untuk orang tua baru
Interaksi orang tua dengan balita meningkat sebesar 38% selama pandemi, tetapi pekerjaan tidak dibagi secara merata antara ibu dan ayah. Para ibu tetap menjadi orang tua yang dominan, dengan 52,1% melaporkan tingkat interaksi yang serupa sebelum pandemi, dan 44,4% melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka. Sementara itu, 44,4% ayah melaporkan tidak ada perubahan pada pola asuh pra-pandemi mereka, dan 38,5% melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat anak.
Pengasuhan dan perhatian dari kedua orang tua penting untuk perkembangan kognitif dan emosional balita, dan ibu serta ayah dapat berkontribusi secara seimbang. Gagasan bahwa mendidik dan mengasuh anak semata-mata merupakan tanggung jawab seorang ibu tentu saja salah tetapi tetap umum di Indonesia, karena pengaruh budaya dan agama.
RUU “Ketahanan Keluarga” yang akan dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tahun ini mengancam untuk mengabadikan peran domestik yang sudah kadaluwarsa dalam undang-undang, yang menetapkan bahwa ibu, bukan ayah, yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Pendekatan ini tidak didukung oleh penelitian tentang perkembangan anak, dan banyak aspek dari RUU tersebut terus dikritik secara luas oleh akademisi, aktivis dan masyarakat luas.
Yang menarik, YouTube tercatat sebagai sumber materi pendidikan yang dominan, digunakan oleh 60,2% orang tua, diikuti oleh televisi publik sebesar 29,8% dan media sosial sebesar 25,4%. Alat berbasis internet lebih banyak digunakan oleh rumah tangga yang pendapatannya meningkat atau tetap sama selama pandemi dibandingkan dengan yang pendapatannya menurun.
Buku mewarnai tersedia di 40,1% rumah tangga, dan teka-teki dan balok di 24,4% rumah tangga. Buku mewarnai disediakan lebih banyak untuk anak perempuan dan teka-teki dan balok untuk anak laki-laki, menunjukkan bahwa banyak orang tua memiliki pemahaman yang mendalam tentang perbedaan gender dalam belajar dan bermain.
Menggambar dan mewarnai mengenalkan anak pada warna, dan memungkinkan mereka mengekspresikan diri, meningkatkan keterampilan motorik, serta mengembangkan kesabaran dan kreativitas. Teka-teki dan blok bangunan merangsang keterampilan motorik lunak, pengenalan warna dan bentuk, serta mendorong imajinasi dan pemecahan masalah. Kedua aktivitas tersebut harus tersedia secara merata untuk anak laki-laki dan perempuan.
Yang paling memprihatinkan, buku cerita hanya tersedia di 10,7% rumah tangga. Untuk rumah tangga di mana pendapatan meningkat atau tetap sama selama pandemi, angkanya hanya sedikit lebih tinggi, yaitu 14,5%, menunjukkan bahwa masalah ini melampaui tingkat pendapatan. Hal ini mengecewakan tetapi tidak mengherankan mengingat rendahnya minat membaca buku di Indonesia yang terdokumentasi secara luas.
Penelitian menunjukkan bahwa membacakan cerita untuk anak-anak sejak usia dini meningkatkan keterampilan bahasa dan literasi, serta kompleksitas bahasa dan pemahaman cerita. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengimbau semua orang tua untuk membacakan kepada anaknya sebelum tidur untuk mendukung pendidikan dan perkembangannya.
Temuan survei menunjukkan bahwa diperlukan upaya yang lebih besar di tingkat akar rumput, mungkin melalui posyandu, untuk menciptakan gerakan yang mendorong orang tua membacakan buku cerita kepada anak-anaknya sejak dini.
Pandemi Covid-19 belum berakhir, dan efek positif dan negatifnya pada pekerjaan, sekolah, kehidupan publik, dan pengasuhan kemungkinan akan tetap terasa untuk beberapa waktu mendatang. Pengalaman anak dan orang tua selama masa pandemi merupakan jalan ke depan untuk kebijakan yang lebih kuat yang dapat mendukung para orang tua dan perkembangan anak mereka dengan lebih baik.
Studi kecil ini menunjukkan bahwa ayah perlu berperan lebih aktif dalam mengasuh anak untuk meringankan beban kerja dan tekanan mental pasangannya, serta mendukung perkembangan anak yang sehat. Hal ini dapat didorong dengan melibatkan para ayah pada tahap awal kehamilan dan menyusui melalui kehadiran mereka di pemeriksaan kesehatan, dan memberikan mereka informasi tentang cara terbaik untuk mendukung pasangan dan anak-anak mereka, termasuk dengan berbagi secara setara dalam tugas-tugas rumah tangga.
Dalam kondisi pandemi atau sebaliknya, diperlukan lebih banyak kesempatan pendidikan bagi balita di rumah. Buku cerita harus tersedia, dan orang tua - baik ibu maupun ayah - harus meluangkan waktu untuk membacakan secara teratur untuk anak-anak mereka. Ini tidak hanya akan mempengaruhi perkembangan anak usia dini, tetapi juga meningkatkan tingkat literasi Indonesia dalam jangka panjang.
Artikel dipublikasikan pertama kali dalam Bahasa Inggris pada 1 Desember 2020 di:
Nasib Posyandu Lansia Saat Pandemi Covid-19
Jumat, 10/07/2020YogyakartaHendri Setyo Nugroho, S.H., M.I.P.

Waktu bergulir melewati bulan keempat sejak kasus Covid-19 pertama kali ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, persentase kematian karena Covid-19 di Indonesia tertinggi dialami kelompok umur ≥ 60 tahun. Seperti yang kita ketahui lanjut usia (lansia) adalah salah satu kelompok rentan dan mudah terpapar Covid-19.
Lalu bagaimana posyandu lansia berperan di tengah pandemi? Pemerintah saat ini sudah berupaya untuk memutus mata rantai penularan virus Korona. Himbauan untuk physical distancing, bekerja, belajar dan beribadah di rumah terus digaungkan. Semua kegiatan yang membuat kerumunan harus dihindari termasuk kegiatan posyandu lansia. Peran posyandu lansia melalui kader sangat penting untuk selalu memonitor kondisi para lansia.
Meski kegiatan posyandu lansia ditiadakan sementara, namun peran kader masih berjalan. Kader berperan memberikan informasi kepada lansia tentang perilaku hidup sehat dan menjaga kesehatan selama pandemi berlangsung. Informasi tersebut diberikan pada saat kader bertemu dengan lansia di jalan atau di masjid. Kader juga membagikan masker kain untuk lansia, baik yang dibeli sendiri dari kas posyandu maupun dari bantuan lembaga lain. Peran lain yang tak kalah penting adalah kerjasama antar stakeholder, seperti dengan pihak RT. Oleh karena cakupan wilayah kecil dan saling berdekatan, maka akan lebih memudahkan dalam memantau kondisi lansia.
Lalu apakah lansia merasakan dampak pandemi Covid-19? Dampak sosial dirasakan lansia dengan tidak adanya posyandu lansia, ternyata menurunkan kesehatan psikologis. Kegiatan posyandu lansia tidak hanya mempertahankan kesehatan fisik agar selalu bugar, namun posyandu lanisa juga sebagai wadah bertemu dengan teman sebayanya, lansia bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi. Pada masa pandemi ini mereka merasa kesepian karena tidak bisa berkumpul.
Selain dampak sosial, dampak ekonomi juga dirasakan oleh lansia. Seperti yang dialami oleh Mbah Marto (70) yang biasanya menjual beras di Pasar Kota Gede Yogyakarta. Namun selama pandemi dia tidak lagi berani ke pasar. Beliau hanya menjual beras di rumah yang berdampak pada berkurang pendapatan. Kisah yang sama, juga dialami oleh banyak lansia lain yang senasib dengan Mbah Marto.
Dampak yang tidak kalah penting adalah kesadaran lansia untuk melindungi diri sendiri masih kurang. Contoh nyata yang terlihat pada saat lansia beraktivitas di luar rumah, banyak yang tidak menggunakan masker. Tidak sedikit juga lansia yang menanyakan kenapa harus pakai masker, kenapa harus di rumah saja.
Keluarga lansia sendiri tidak bisa menyampaikan informasi dengan jelas, lansia banyak yang tidak menonton berita di televisi, kader posyandu tidak bisa banyak berperan di situasi seperti sekarang. Hal ini membuktikan bahwa informasi yang mereka terima tentang Covid-19 masih kurang sedangkan mereka rentan tertular.
Apa yang perlu dilakukan untuk membantu lansia yang terdampak Covid-19?
Kelompok usia lanjut merupakan golongan yang memerlukan perhatian khusus. Sesuai amanah “Panduan Perlindungan Lansia” oleh KPPPA diperlukan peran dari kader posyandu lansia di level masyarakat untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi lansia di masa pandemi Covid-19 dengan melibatkan dan bekerja sama lintas sektor.
Kader posyandu berharap adanya bantuan berupa sembako dan makanan bergizi. Lansia masih kurang diperhatikan, belum ada bantuan yang khusus menyasar mereka. Bantuan lain yang diterima lansia adalah masker kain, sembako, hand sanitizer. Namun demikian bantuan tersebut belum diterima semua lansia di posyandu. Harapannya, jika menyalurkan bantuan pemerintah desa dapat bekerja sama dengan kader posyandu dalam pendistribusiannya.
Tak kalah penting yang harus diperhatikan bagaimana lansia bisa mendapatkan informasi yang tepat dan jelas mengenai Covid-19. Menurut kader posyandu, mereka sebaiknya diberikan informasi dari sumber yang berkompeten, seperti petugas dari puskesmas. Namun di masa pandemi seperti ini, petugas kesehatan sudah memiliki banyak tugas untuk menangani pasien di garda terdepan. Langkah bijak yang bisa dilakukan salah satunya dengan mendokumentasikan informasi tentang Covid-19 dari berbagai sumber terpercaya seperti yang diterbitkan oleh kementerian terkait.
Pemerintah desa bisa membantu melakukan koordinasi untuk pendokumentasian, selanjutnya disampaikan melalui karang taruna, RT, RW, atau kader posyandu. Kader dengan networking yang luas akan menyampaikan informasi kepada lansia. Libatkan juga keluarga dan masyarakat agar secara aktif menjelaskan informasi tentang Covid-19 kepada lansia. Selaras juga dengan pedoman umum menghadapi Covid-19 yang dikeluarkan oleh Kemendagri, bahwa pastikan lansia memperoleh kesadaran dan perlindungan pribadi terkait Covid-19.
_______
*Tulisan pertama kali dipublikasikan di rubrik “INSPIRASI UNTUK KEBIJAKAN” SKH Kedaulatan Rakyat, Edisi Jumat 10 Juli 2020. Untuk melihat versi koran cetak tersebut silahkan klik di sini.
‘Negatif COVID-19 tetapi Positif Hamil': Jalan Terbaik adalah Menunda Bayi Baru
Selasa, 07/07/2020SurveyMETERDwi Oktarina, S.Si., M.P.H.

Semakin banyak orang tinggal di rumah selama pandemi, kekhawatiran meningkatnya jumlah kehamilan muncul. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil baru-baru ini memposting tangkapan layar di akun Instagram-nya sebuah artikel yang berkaitan dengan peningkatan kehamilan di Kabupaten Cirebon, dan mendesak laki-laki untuk "memperlambatnya" dengan istri mereka. "Negatif COVID-19 tetapi positif hamil," diposting Ridwan.
Terbatasnya akses ke layanan kesehatan selama pandemi ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa semakin sedikit orang yang menerima kontrasepsi. Menurut angka terbaru Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 28 juta pasangan Indonesia menerima layanan kontrasepsi. Namun, dewan memperhatikan penurunan 20 hingga 30 persen pada penerima dari Februari hingga Maret, dengan variasi antar provinsi.
Kekhawatiran akan ledakan bayi dan peningkatan populasi bukan satu-satunya alasan para ahli menyarankan pasangan untuk menunda kehamilan. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, mengatakan ibu hamil rentan selama trimester pertama dan cenderung memiliki ketidaknyamanan kesehatan seperti mual. Sistem kekebalan tubuh mereka juga lebih lemah dari biasanya, dan dengan demikian mereka berisiko lebih tinggi terhadap infeksi. Kami belum sepenuhnya memahami efek infeksi COVID-19 pada janin, atau efek obat pada ibu dan janin yang terinfeksi.
Ibu hamil juga menghadapi lebih banyak pembatasan dalam pemeriksaan kehamilan sebelum pandemi. Jauh sebelum pandemi, angka kematian ibu di Indonesia sudah menjadi masalah besar, dengan angka nasional yang tinggi yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup.
Banyak faktor yang berhubungan dengan virus tetap tidak diketahui. Sementara para peneliti masih berusaha menemukan vaksin, beberapa kasus bayi baru lahir yang terinfeksi virus telah dilaporkan. Di Wuhan, Cina, tempat ditemukannya kasus pertama di dunia, bayi baru lahir menjadi individu termuda yang terinfeksi virus SARS-CoV-2, laporan pada awal Februari mengatakan, mirip dengan bayi baru lahir lainnya pada pertengahan Maret di London. Ibu di Wuhan telah dites positif COVID-19 sebelum melahirkan.
Namun, jurnal The Lancet baru-baru ini menerbitkan sebuah studi pada sembilan wanita hamil dengan COVID-19 yang menunjukkan bahwa penularan intrauterin sangat tidak mungkin. Sampel cairan ketuban, tali pusat, ASI, dan usap tenggorokan bayi baru lahir terbukti negatif terhadap virus.
Dalam hal gizi, pandemi ini dapat membatasi pilihan makanan bergizi ibu, dengan banyak keluarga menghadapi pendapatan yang semakin rendah. Kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi selama kehamilan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi baru lahir. Hal ini dapat menyebabkan stunting, yang sudah menjadi masalah kesehatan nasional utama.
BKKBN telah menempatkan konselor lapangan untuk memberikan layanan kepada pasangan melalui kunjungan rumah. BKKBN juga berencana untuk memberikan kontrasepsi kepada 1 juta penerima pada bulan Juni. Program ini bertujuan untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi di antara mereka yang telah berhenti menggunakan kontrasepsi selama pandemi.
Terlepas dari upaya pemerintah, masih ada kebutuhan mendesak untuk menargetkan lebih banyak orang yang tinggal di rumah. Dibutuhkan lebih banyak kampanye pendidikan untuk menasihati pasangan untuk menunda kehamilan melalui media seperti televisi dan radio. Media terakhir akan menargetkan audiens di daerah yang lebih terpencil di mana transmisi televisi terbatas.
Meskipun sistem kesehatan cukup kewalahan dalam pandemi saat ini, upaya ekstra dapat dilakukan dengan memberdayakan dan memperkuat bidan sebagai konselor dalam mendidik pasangan untuk menunda kehamilan. Asosiasi Bidan Nasional (IBI) mendaftar lebih dari 300.000 bidan di 34 provinsi. Ini tentu akan menantang, tetapi upaya kecil dalam menunda kehamilan dapat membantu mengurangi beban penyedia layanan kesehatan serta ibu dan keluarga mereka selama pandemi.
Relawan dari desa dan kelompok kesejahteraan keluarga (PKK) berbasis desa dan juga bisa diberdayakan. Relawan di seluruh negeri telah dimobilisasi untuk mendistribusikan bantuan makanan kepada rumah tangga yang memenuhi syarat di komunitas mereka. Mereka juga dapat membantu meningkatkan kesadaran di kalangan ibu dan pasangan muda tentang kesehatan ibu dan pentingnya menghindari kehamilan selama pandemi dengan menyampaikan informasi yang benar dengan pamflet atau poster saat mendistribusikan persediaan makanan.
Setiap wanita memiliki hak untuk hamil dan melahirkan anak dan setiap anak memiliki hak untuk tumbuh sehat di lingkungan terbaik. Namun, dalam masa ketidakpastian dan keterbatasan ini, akan lebih bijaksana untuk menunda kehamilan dan menunggu sampai pandemi mereda. Keputusan harus diambil dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan tidak hanya kesehatan ibu, tetapi juga bayi, kesejahteraan keluarga dan kapasitas sistem kesehatan.
Artikel ini dipublikasikan pertama kali dalam Bahasa Inggris di The Jakarta Post, 4 Juli 2020:
Sebentuk Aksi Kecil untuk Lanjut Usia di Masa Pandemi
Senin, 06/07/2020SurveyMETERAstrid Nikijuluw, Bach. Of Business., M.M.

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi sistem dan tatanan sosial kita dan membuat dunia terhenyak. Di Indonesia, per tanggal 19 Juni 2020, jumlah kasus COVID-19 mencapai 43.803. Dari angka tersebut, 14% adalah para lanjut usia (usia 60 dan lebih tua) dan 44% dari tingkat kematian (2,373 kasus). Ini menunjukkan bahwa jumlah kematian tertinggi dialami oleh kelompok umur ≥ 60 tahun.
Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh kita melemah. Hal ini membuat para lanjut usia lebih rentan terhadap semua jenis infeksi. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendukung dan melindungi para lanjut usia selama pandemi ini, terutama mereka yang hidup sendiri. Pemerintah harus didukung untuk memberikan intervensi dalam memastikan para lanjut usia mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Dukungan ini dapat mencakup makanan bergizi, kebutuhan dasar seperti sembako, obat-obatan untuk mendukung kesehatan fisik dan akses ke dukungan kesehatan sosial dan mental.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai provinsi dengan tingkat harapan hidup tertinggi di Indonesia, beberapa tindakan dan kegiatan telah diambil oleh berbagai pihak dalam mendukung para lanjut usia selama pandemi. Kami pun berupaya melakukan hal kegiatan kecil sesuai kapasitas kami sebagai institusi penelitian.
Kegiatan kecil kami adalah wawancara pendokumentasian tentang inisiatif dan terobosan pelayanan posyandu oleh kader posyandu lanjut usia di masa pandemi di 5 kabupaten/kota yaitu Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman dan Kota Yogyakarta. Dalam wawancara tersebut kami menemukan bahwa di antara kegiatan kecil mereka selama pandemi antara mendistribusikan masker serta pengetahuan melalui flyer dan poster tentang bagaimana memakai masker dan mencuci tangan dengan benar.
Di satu desa di Kabupaten Kulon Progo, satu inisiatif dari kader posyandu lanjut usia yang cukup solutif adalah mendorong para lanjut usia untuk tetap melakukan kegiatan tambahan seperti berkebun. Selain karena tinggal di desa dan umumnya profesi mereka adalah petani, aktivitas berkebun dapat membantu kondisi ekonomi dan sosial serta menjaga imunitas mereka. Dengan demikian saat berkegiatan tersebut mereka juga masih dapat berinteraksi satu sama lain dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Di satu desa lain di Kabupaten Bantul, organisasi pemuda desa berinisiatif mengumpulkan dana dari warga setempat yang digunakan untuk membeli bahan makanan yang akan didistribusikan kepada warga kurang mampu, termasuk para lanjut usia.
Dari berkegiatan wawancara kecil di masa pandemi tersebut, sungguhnya banyak pelajaran yang dapat kami dan kita pelajari. Bahwa kepedulian kecil masyarakat di semua sektor dan usia dapat berdampak besar dalam kesehatan dan kebahagiaan orang lain. Kita perlu menyadari bahwa tanggung jawab untuk memelihara lingkungan yang sehat dan aman ada di tangan kita semua. Karena seperi disampaikan Presiden Joko Widodo pada Senin 18 Mei 2020, cara paling efektif untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 adalah pada unit masyarakat yang paling bawah. Kita akan bisa mengatasi pandemi ini, namun untuk itu kita harus melakukan upaya aktif demi tetap sehat serta dan aman secara fisik secara mental untuk kita sendiri dan untuk orang-orang di sekitar kita, termasuk para lanjut usia.
Demikian sekilas pembelajaran yang kami petik dari pendokumentasian kami. Kami juga menuliskan catatan dalam versi lain di Buletin Active Aging Consortium Asia Pacific (ACAP) Edisi Juni-Juli 2020 (hlm. 10-11), dengan harapan menjadi pembelajaran masyarakat dan komunitas global. Selengkapnya catatan tersebut dapat dibaca dan diunduh di sini: Sebentuk Aksi Kecil untuk Lanjut Usia di Masa Pandemi
Dampak Covid-19 Terhadap Pendidikan Anak
Jumat, 03/07/2020SurveyMETERSetyo Pujiastuti, S.Sos., M.Si.

Saat ini Dunia digegerkan oleh wabah Virus Corona atau Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah kebijakan untuk memutus rantai penularan Covid-19. Kebijakan utamanya adalah memprioritaskan kesehatan dan keselamatan rakyat. Bekerja, beribadah dan belajar dari rumah.
UNESCO menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 mengancam 577.305.660 pelajar dari pendidikan pra-sekolah dasar hingga menengah atas dan 86.034.287 pelajar dari pendidikan tinggi di seluruh dunia. Seperti kebijakan yang diambil berbagai negara yang terdampak penyakit covid-19, Indonesia meliburkan seluruh aktivitas pendidikan. Hal tersebut membuat pemerintah dan lembaga terkait menghadirkan alternatif proses pendidikan bagi peserta didik dengan belajar mengajar jarak jauh atau belajar online atau belajar dari rumah dengan pendampingan orang tua.
Penerapan kebijakan belajar mengajar jarak jauh dari rumah atau belajar online nampaknya tidak menjadi masalah bagi sebagian perguruan tinggi yang sudah memiliki sistem akademik berbasis daring. Menjadi masalah bagi sebagian perguruan tinggi lain yang tidak memiliki sistem tersebut.
Di level pendidikan dasar, menengah dan atas secara teknis proses pembelajaran jarak jauh juga banyak mengalami kendala. Peserta didik dari keluarga yang tidak memiliki akses internet atau bahkan tidak memiliki handphone akan ketinggalan pembelajaran ketika tugas belajar disampaikan melalui aplikasi WhatsApp atau yang lainnya. Menyikapi kondisi seperti itu, pihak sekolah seyogyanya memberikan kebijaksanaan, misalnya dengan memberikan tugas dalam bentuk kertas kerja.
Selain itu dampak lain dirasakan oleh peserta didik dari belajar dari rumah adalah beban pelajaran terlalu banyak. Pada saat yang sama peserta didik dituntut untuk dapat mencermati dan mempelajari materi pelajaran sendiri dengan cepat. Kalaupun diberikan ruang bertanya kepada guru melalui pesan aplikasi WhatsApp itu dirasakan tidak cukup waktu. Dan, yang paling mudah diamati oleh orang tua peserta didik, belajar mengajar dari rumah juga membuat peserta didik menjadi gampang bosan karena tidak bisa berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya.
Karena itu, dengan belajar dari rumah, orang tua dituntut untuk memaksimalkan perannya dalam mendampingi putra-putrinya. Terutama jika mereka masih usia pra-sekolah dasar dan sekolah dasar. Karena di usianya sifat mereka unik, energik, aktif, manja dan egosentris (keakuan) tinggi. Di sinilah orang tua seyogyanya dapat menyelami karakter putra-putrinya sehingga pendampingan proses pembelajaran dari rumah berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
Pembelajaran di rumah memungkinkan sebagian orang tua stress dalam mendampingi anak apabila kurang memahami karakter anak. Orang tua merasa bahwa anak susah diatur, maunya main saja, malas belajar. Selain menghadapi perilaku anak dalam mendampingi belajar di rumah, orang tua juga dituntut dapat menjelaskan banyak hal terkait dengan materi pelajaran, sementara tidak semua orang tua siap untuk itu. Belum lagi jika anaknya banyak dan orang tua harus bekerja untuk mencari nafkah, orang tua menjadi lebih pusing.
Tak jarang ditemukan orang tua memberikan pendampingan belajar kepada putra-putrinya dengan cara keras, mengancam, memaksakan kehendak, atau bahkan dengan memukul jika anak tidak menurut. Jika hal ini terjadi setiap hari maka ini akan menjadi momok bagi anak dalam belajar, meskipun tujuan orang tua baik supaya anak disiplin dan pandai. Pola asuh yang demikian akan membentuk anak menjadi penakut, pemalu, pendiam, gemar melanggar aturan, pendendam dan kurang memiliki inisiatif.
Oleh sebab itu orang tua harus berhati-hati dalam melakukan pendekatan selama mendampingi anak belajar di rumah. Orang tua seyogyanya dapat memperlakukan anak dengan kasih sayang, sabar, menerima anak apa adanya, tidak menghakimi, tidak memaksakan kehendak, memberikan kebebasan dan menghargai, serta toleransi putra-putrinya. Dengan demikian tidak akan ditemui momok pendidikan yang menakutkan sebaliknya akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan selama belajar di rumah.
________
*Tulisan pertama kali dipublikasikan di rubrik “INSPIRASI UNTUK KEBIJAKAN” SKH Kedaulatan Rakyat, Edisi Jumat 03 Juli 2020. Untuk melihat versi koran cetak silahkan klik di sini.
Pandemi dan Beban Lingkungan
Jumat, 26/06/2020YogyakartaIka Yulia Wijayanti, S.E., M.Sc.
Karantina wilayah dan pembatasan aktivitas sebagai respon dari pandemi Covid-19 sempat memberi dampak positif bagi peningkatan kualitas udara secara global. Namun, sesungguhnya pandemi menunjukkan masalah mendasar yang sedang dihadapi lingkungan.
Sebagai contoh, Jakarta sempat mengalami penurunan kadar karbondioksida (CO2) yang bersumber dari kendaraan bermotor selama kurun waktu Februari-Maret. Sayangnya, hal tersebut hanya berlangsung singkat. Kemacetan kendaraan bermotor seiring diberlakukannya kondisi normal baru (new normal) akan membawa kadar CO2 kembali ke kisaran normal.
Peningkatan kualitas udara selama karantina wilayah sulit dipertahankan lebih lama karena perubahan yang terjadi tidak bersifat struktural seperti beralihnya penggunaan energi berbahan dasar fosil yang tinggi polutan ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Turunnya harga minyak dunia akibat berkurangnya permintaan turut mengonfirmasi fakta tersebut.
Padahal jika penurunan tingkat polusi dapat dipertahankan, manfaatnya akan jauh lebih besar. Penelitian Marshall Burke, seorang professor Stanford University, menunjukkan bahwa penurunan polusi udara selama karantina wilayah akan menyelamatkan manusia dari kematian dini akibat paparan polusi dalam jumlah yang lebih besar daripada kematian yang diakibatkan oleh Covid-19 di China. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi atas perilaku manusia dalam kondisi normal yang membebani lingkungan.
Pada masa pandemi, gerakan mengurangi sampah plastik cenderung dikesampingkan karena ketakutan masyarakat bahwa virus dapat bertahan di benda-benda tertentu selama beberapa waktu. Penggunaan masker dan sarung tangan sekali pakai oleh masyarakat umum juga turut meningkatkan sampah rumah tangga.
Sementara itu, penanganan pasien Covid-19 membawa konsekuensi melimpahnya limbah medis. Kementerian Lingkungan Hidup RI memprediksi adanya peningkatan limbah infeksius sebesar 30 persen dibandingkan kondisi sebelum pandemi. Di tengah kurangnya fasilitas pengolahan limbah berbahaya seperti insinerator, peningkatan limbah medis di Indonesia berpotensi memunculkan masalah serius seperti pengolahan limbah medis ilegal.
Jika ditelisik lebih jauh, misteri penyebab pandemi sangat mungkin terkait dengan krisis lingkungan yang sedang terjadi. Covid-19 menjadi pandemi global karena penularannya yang cepat dari manusia ke manusia melalui cairan (droplets). Namun demikian, menurut laporan misi kerjasama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pemerintah China, SARS-CoV-2 sebagai pemicu Covid-19 adalah virus zoonotik. Artinya, virus tersebut pada awalnya ditularkan dari hewan ke manusia.
Kemunculan virus zoonotik terkait erat dengan kondisi ekosistem lingkungan dimana manusia dan hewan berbagi tempat hidup. Keanekaragaman hayati yang rusak dan perubahan iklim mendorong munculnya patogen yang semakin kuat akibat proses adaptasi terhadap tekanan lingkungan. Sementara itu, kontak satwa liar dengan manusia memperbesar potensi penularan kepada manusia.
New normal bagi lingkungan
Pengalaman berperang melawan penyakit baru, sejenak merasakan perubahan tingkat polusi, dan potensi meningkatnya sampah yang harus dikelola seharusnya memunculkan kesadaran akan dampak krisis lingkungan dan apa yang harus dilakukan ke depannya. Beberapa langkah perlu dipertimbangkan agar lingkungan turut menikmati new normal yang lebih baik.
Pertama, perubahan perilaku produksi dan konsumsi untuk mencapai peningkatan kualitas udara yang berkelanjutan. Upaya menemukan energi yang ramah lingkungan untuk menggantikan energi tinggi polutan perlu diprioritaskan sebagai investasi jangka panjang. Sementara itu, pengelolaan polutan industri dan penyediaan transportasi umum untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi cukup mendesak dilakukan.
Kedua, perlakuan terhadap sampah dan limbah, baik limbah medis maupun sampah rumah tangga. Gerakan mengurangi sampah plastik harus tetap dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan tetap memperhatikan higienitas. Pendataan masyarakat yang menjalani isolasi di rumah seharusnya diikuti oleh mekanisme pengambilan sampah rumah tangga yang berpotensi membahayakan jika dikelola seperti kondisi normal. Tentunya hal ini juga harus diiringi peningkatan kapasitas pengolahan limbah medis melalui insinerator maupun pengolah alternatif lain agar mampu memenuhi kebutuhan pengolahan limbah dari fasilitas pelayanan kesehatan dan sampah rumah tangga yang beresiko.
Ketiga, menjaga kesehatan ekosistem antara lain dengan membiarkan satwa liar tetap pada habitatnya dan menjaga keanekaragaman hayati yang mendukungnya. Regulasi dan penegakan hukum terkait perdagangan satwa liar dan tata guna lahan berperan penting dalam meminimalisir kemungkinan kontak dengan manusia.
________
*Tulisan pertama kali dipublikasikan di rubrik “INSPIRASI UNTUK KEBIJAKAN” SKH Kedaulatan Rakyat, Edisi Jumat 26 Juni 2020. Untuk melihat versi koran cetak silahkan klik di sini.
Penanganan COVID-19 di Berbagai Daerah
Jumat, 19/06/2020YogyakartaEdy Purwanto, S.P, M.Sc.
Hingga awal Juni 2020, pandemi Covid-19 memasuki bulan ke-4 sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020 oleh Presiden Jokowi. Berbagai kebijakan pemerintah pusat maupun daerah telah dilaksanakan. Namun, sampai saat ini pemerintah belum memberikan pernyataan secara resmi, kapan pandemi ini selesai. Hingga akhirnya, berdamai dengan virus korona menjadi alternatif penyelesaian agar penyebaran Covid-19 dapat di hambat dan kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan.
Saat ini, belum terlambat untuk melihat berbagai kebijakan yang telah dilaksanakan setiap daerah, melihat kelebihan dan kekurangan serta mengambil pembelajaran untuk melanjutkan penanganan kasus pandemi yang masih berlanjut di beberapa daerah hingga bersiap jika terjadi gelombang ke-2.
DKI Jakarta sebagai daerah awal berkembangnya Covid-19, dengan cepat menerapkan kebijakan PSBB sejak aturan PSBB dikeluarkan oleh pemerintah pusat. DKI Jakarta menerapkan PSBB hingga 3 tahap mulai dari 10 April – 4 Juni 2020. Dari awal PSBB pertama hingga akhir PSBB ke-3 persentase pertumbuhan rata-rata harian menurun dari 5,1% selanjutnya 2,1% dan akhirnya 1,6% di PSBB ke-3. Dengan hasil ini, akhirnya pemerintah DKI Jakarta menerapkan PSBB masa transisi mulai 5 Juni 2020. Masa ini digunakan sebagai masa peralihan menuju new normal.
Jawa Barat juga telah melaksanakan PSBB tahap 1 hingga 3 di beberapa wilayah seperti Depok, Bogor, Bekasi dan Bandung Raya. Pelaksanaan PSBB Jawa barat berhasil menurunkan pertumbuhan rata-rata harian kasus positif Covid-19 dari 4%, 3,2% pada PSBB 2 dan 2,6% pada akhir PSBB 3. Di akhir PSBB 3, Jawa Barat juga tidak memperpanjang PSBB dan penanganan berikutnya diserahkan kepada daerah masing-masing.
Sementara itu, penanganan Covid-19 di Jawa Tengah mengandalkan pada partisipasi masyarakat dengan pembatasan sosial berbasis desa dan tidak ada PSBB wilayah. Dengan kesadaran bersama, masyarakat melakukan penutupan dan penjagaan di wilayah masing-masing. Bahkan, beberapa Kabupaten/Kota menyediakan fasilitas untuk isolasi bagi para pendatang. Dengan kebijakan ini Jawa Tengah berhasil menekan rata-rata harian perkembangan Covid-19 dari 7,5% di bulan April, 2,9% di awal Mei dan menurun hingga 1,1% akhir Mei 2020.
Berbeda dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat yang segera melaksanakan PSBB di awal April, Jawa Timur melaksanakan PSBB mulai 28 April - 9 Juni 2020. PSBB Jawa Timur dilaksanakan di beberapa wilayah meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Sidoarjo. PSBB ini menyusul PSBB Malang Raya yang telah dilaksanakan lebih dulu pada 17-30 Mei 2020. Selama pelaksanaan PSBB di Jawa Timur, rata-rata harian perkembangan Covid-19 masih relatif tinggi yaitu 4,9% di tahap I, 6,9% di tahap II dan 4,2% di tahap ke III.
Meskipun Bali tidak melaksanakan PSBB, namun konsisten melaksanakan kebijakan jaga jarak, bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Gubernur menerapkan berbagai kebijakan baik untuk pasien maupun petugas medis. Selain itu petugas melakukan deteksi awal terhadap para penderita secara cepat. Satgas Gotong Royong Desa Adat berperan dalam proses isolasi mandiri. Dengan kebijakan yang diterapkan, Bali berhasil menekan laju perkembangan Covid-19 dan meningkatkan persentase kesembuhan. Rata-rata pertumbuhan kasus per hari adalah 8% di bulan April, 2,6% di awal Mei dan menurun hingga 2% di akhir Mei 2020.
DI Yogyakarta juga tidak melaksanakan PSBB dalam menekan laju penambahan kasus Covid-19. Pemudik dari zone merah harus melaporkan diri ke pemerintah desa dan melakukan isolasi diri selama 14 hari. Partisipasi warga dalam pengawasan isolasi serta menjaga kepatuhan masyarakat di lingkungan masing-masing sangat besar. Kebijakan ini berhasil menekan laju perkembangan Covid-19. Rata-rata persentase pertumbuhan kasus per hari di DIY adalah 4,6% di bulan April, 4,3% di awal Mei dan menurun hingga 1,3% di akhir Mei 2020.
Memperhatikan hasil di atas, terlihat bahwa penerapan PSBB menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Hal ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang jelas. Selain itu, partisipasi yang tinggi dari masyarakat, menunjukkan hasil yang lebih tinggi dalam menekan laju penyebaran Covid-19. Hasil-hasil diatas dapat menjadi pembelajaran bagi daerah-daerah yang masih harus melaksanakan PSBB di tahap berikutnya maupun usaha lain dalam menghentikan laju pertumbuhan Covid-19 di bulan-bulan mendatang.
________
*Tulisan pertama kali dipublikasikan di rubrik “INSPIRASI UNTUK KEBIJAKAN” SKH Kedaulatan Rakyat, Edisi Jumat 19 Juni 2020. Untuk melihat versi koran cetak silahkan klik di sini.
Tantangan dalam Pembelajaran PAUD pada Masa Pandemi
Senin, 15/06/2020SurveyMETERHendy Puspitha Primasari, SE
KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan meminta selama pandemi Covid-19 ini, guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak memberikan tugas macam-macam kepada muridnya. Selama masa pandemi ini, anak-anak diberikan kemerdekaan untuk bermain sepuas-puasnya di rumah. Demikian disampaikan Plt. Direktur Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini, Abdoellah dalam video konferensi pada Selasa 31/3/2020 lalu.
Menanggapi himbauan tersebut, tidak sedikit guru PAUD yang kemudian menerapkan pembelajaran dengan metode yang berbeda. Salah satunya seorang guru PAUD di Kab Kulonprogo menyampaikan, sejak adanya himbauan dari Dinas Pendidikan Kab Kulonprogo untuk tidak memberikan materi pembelajaran sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran —semacam acuan untuk mengelola kegiatan bermain dalam upaya mencapai kompetensi dasar, maka dia lebih banyak memberikan tugas dengan materi pembelajaran yang sifatnya pembiasaan.
Materi-materi pembiasaan yang ditugaskan selama pembelajaran di rumah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang selama ini diterapkan di sekolah. Ada tiga tema dalam materi yang diberikan yaitu PHBS, pendidikan karakter dan keagamaan. Materi PHBS misalnya praktek cuci tangan, mandi, gosok gigi, membersihkan perlengkapan makan sendiri. Materi pendidikan karakter misalnya membantu orang tua, berbicara sopan, mengucapkan terima kasih, minta tolong. Sedangkan materi keagamaan contohnya wudhu, sholat, membaca iqro, hafalan surat pendek, berdoa sebelum beraktivitas, dan sebagainya. Materi materi tersebut sesuai dengan kurikulum yang saat ini digunakan, yaitu kurikulum 2013.
Tugas-tugas pembiasaan tersebut diberikan setiap hari melalui WA group dalam bentuk teks instruksi, audio instruksi dan juga video contoh. Selanjutnya orang tua akan mendampingi serta mendokumentasikan kegiatan tersebut dalam bentuk video atau foto dan kemudian dikirimkan ke guru sebagai bahan pemantauan dan penilaian.
Tidak Semudah yang Dibayangkan
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di rumah dengan metode pembiasaan tidaklah semudah yang dibayangkan. Faktor kurangnya semangat anak dan kurangnya kemampuan orang tua dalam mendampingi anak menjadi tantangan dalam penerapan metode pembiasaan. Seorang kepala sekolah di Bantul menyampaikan kepada penulis, ternyata tidak semua orang tua bisa seperti guru di sekolah. Banyak orang tua tidak telaten, anak biasanya malah dibentak-bentak yang juga efeknya kurang bagus. Mungkin karena keadaan situasi dan kondisi, anak jadi kurang semangat di rumah sehingga jenuh, tidak ada teman-teman, dan tidak ada yang memotivasi. Karena biasanya di sekolah guru menyampaikan pembelajaran diselingi dengan seni, ada tepuk-tepuk, bernyanyi, dan selingan berbagai kreativitas lainnya, sedangkan di rumah cenderung monoton.
Tidak bisa dipungkiri, salah satu sifat anak-anak adalah mereka sangat mudah untuk berubah pikiran dan berubah suasana hatinya (moody). Hal tersebut dikarenakan anak usia dini belum bisa mengontrol diri dengan baik. Kebanyakan dari mereka belum bisa berkomunikasi dengan lancar dan menyampaikan apa yang dirasakan. Hal ini masih ditambah faktor atmosfir belajar anak yang tiba tiba berubah, dari yang biasanya dilakukan bersama teman dengan penuh warna dan kreativitas, sekarang harus dilakukan sendiri dan kurang menarik.
Suasana hati dan emosi anak yang seringkali berubah secara tiba-tiba membuat orang tua merasa bingung dan kewalahan. Tidak semua orang tua paham bagaimana menghadapi anak yang berperilaku tidak sesuai harapan. Dalam situasi ini, tidak jarang orang tua gagal membentuk komunikasi dengan anak. Alih-alih memahami perilaku anak, justru orang tua lebih sering marah dan membentak. Hal ini tentu akan kontradiktif dengan proses pembelajaran yang sedang dilakukan.
Tantangan lain dalam penerapan pembelajaran pembiasaan di rumah adalah pola pikir dan motivasi orang tua. Salah satu contohnya orang tua murid yang diwawancara penulis menyatakan bahwa motivasi menyekolahkan anak di PAUD selama ini lebih sekadar untuk menitipkan anak ketika ditinggal bekerja. Sehingga, saat anak tidak bersekolah dan hanya bermain di rumah, orang tua merasa bahwa ini adalah hal yang sudah seharusnya bagi anak. Motivasi dan pola pikir seperti ini bisa menjadi salah satu penyebab orang tua malas untuk mendampingi anak dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
Permasalahan lain yang dialami guru adalah terkait pengamatan dan penilaian. Selama pandemi Covid-19, pengamatan hanya bisa dilakukan dengan melihat video dan foto yang dikirimkan oleh orang tua murid. Hal ini menyebabkan aktivitas pengamatan yang dilakukan oleh guru menjadi sangat terbatas. Seorang kepala TK di Bantul kepada penulis menyampaikan, selama ini tidak bisa memantau sepenuhnya proses penerapan pembelajaran di rumah. Berbeda dengan saat di sekolah, dari pagi sampai siang bisa memantau anak-anak, terutama pembiasaannya semisal hafalan-hafalan. Sekarang dengan situasi ini guru tidak bisa mengulang-ulang lagi hafalannya, sehingga itu menyulitkan. Dari video yang dikirimkan, guru kelas juga tidak bisa melihat secara langsung anak ikut menghafalkan atau tidak.
Sementara, penilaian pada metode pembiasaan adalah dengan teknik penilaian catatan anekdot, yaitu melakukan pengamatan secara penuh kemudian mencatat seluruh fakta, menceritakan situasi yang terjadi, menuliskan apa yang dilakukan anak dan apa yang dikatakan anak. Catatan anekdot ini berfungsi sebagai jurnal kegiatan harian yang memungkinkan untuk mengetahui perkembangan anak. Alhasil dengan adanya keterbatasan pengamatan, bisa dipastikan pencatatan anekdot tidak akan berjalan maksimal. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada validitas penilaian yang dilakukan guru.
Sinergi dan Dukungan
Dari beberapa permasalahan yang diungkapkan oleh guru dan kondisi orang tua murid di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan metode pembiasaan tidak berjalan dengan mudah. Peran vital orang tua dalam penerapan metode pembiasaan di rumah belum diikuti dengan pemahaman yang cukup tentang bagaimana mendampingi dan membimbing anak sesuai kaidah-kaidah PAUD. Kebingungan orang tua dapat berakibat pada anak mengalami hal-hal yang seharusnya tidak dialami pada usianya. Kesiapan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar menjadi kritis. Sementara pengamatan terbatas yang menyebabkan validitas penilaian berkurang menjadi masalah yang krusial dialami guru.
Kondisi pandemi memang berat untuk semua orang, terlebih bagi orang tua karena beban pikiran dan tanggung jawab bertambah dengan intensitas mendampingi anak dalam pembelajaran di rumah. Namun demikian penting bagi orang tua untuk membuka diri, membuka wawasan dan semangat untuk belajar bagaimana mendampingi anak dalam proses pembelajaran. Saatnya orang tua menyadari bahwa pembelajaran anak saat ini kembali menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya, kembali ke kodratnya bahwa orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak.
Di sisi lain guru diharapkan mampu menjaga komunikasi dua arah dengan orang tua dan anak didik secara reguler. Diawali dengan memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi, kemudian dilanjutkan dengan berbagi ilmu kiat-kiat mendidik anak sesuai metode pembiasaan di PAUD. Guru harus membuka pintu lebar-lebar menjadi konsultan bagi orang tua dan memupuk kepercayaan diri orang tua.
Dinas Pendidikan harus lebih berperan aktif memberikan dukungan kepada guru dan orang tua murid. Mengambil langkah-langkah inovatif, memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi serta mempertimbangkan cara-cara yang lebih baik lagi, untuk memberikan pendidikan selama masa pandemi ini belum berakhir.
Melewati masa pandemi memang bukan hal yang mudah bagi guru, orang tua dan anak. Akan tetapi semua bergantung pada kemauan. Manakala segala sesuatunya sudah siap, bukan tidak mungkin terwujud PAUD From Home sepenuhnya. ***
Artikel ini dipublikasikan pertama kali di:
http://news.koranbernas.id/berita/detail/tantangan-dalam-pembelajaran-paud-pada-masa-pandemi