Survei Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) 2010

Rabu, 13/10/2010SurveyMETER

causes
Pewawancara sedang melakukan Pengumpulan data studi di salah satu sekolah di Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, 12 April 2010

SurveyMETER melaksanakan pengumpulan data lapangan studi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School-Based Management (SBM) pada Maret hingga April 2010. Survei ini adalah bagian dari proyek Bank Dunia yang dilakukan dengan dukungan RAND Corporation dan Direktorat Jenderal Penididikan Dasar Departemen Pendidikan Nasional.

Tujuan studi secara garis besar adalah untuk memperolah gambaran tentang pelaksanaan SBM di Indonesia. Terutama untuk melihat sejauh mana setiap unsur yang terkait telah melakukan perannya masing-masing sehingga dapat dilakukan evaluasi seberapa jauh efektivitas pelaksanaan SBM ini dan kendala-kendala apa yang dihadapi serta mencari solusi demi memperbaiki dan memperkuat SBM dalam rangka peningkatan pelayanan dan mutu pendidikan.

Meskipun unsur terkait yang utama dalam MBS adalah sekolah dan masyarakat, akan tetapi kita juga akan melihat bagaimana keterkaitan unsur lain seperti Dinas Pendidikan ditingkat kabupaten dan UPTD ditingkat kecamatan, Dewan pendidikan dan pengawas yang diwakili oleh ketua pengawas, karena sejauh ini kita tidak mengetahui bagaimana fungsi/peranan unsur-unsur tersebut dalam pelaksanaan MBS.

Secara spesifik penelitian ini mengkaji bagaimana pelaksanaan SBM, terutama: mekanisme yang ada untuk mendukung pelaksanaan SBM, partisipasi Komite sekolah dan orang tua murid dalam pengambilan keputusan di sekolah, pemberian kewenangan dan otonomi kepada kepala sekolah dan guru, perananan dinas pendidikan dan UPTD dalam mendukung SBM, mekanisme pertanggungan jawab untuk pelayanan pendidikan pada tingkat sekolah, serta transparasi dalam pengambilan keputusan oleh sekolah terutama dalam penggunaan dana BOS. Studi ini juga mengkaji bagaimana keterkaitan unsur lain seperti Dinas Pendidikan ditingkat kabupaten dan UPTD ditingkat kecamatan, Dewan pendidikan dan pengawas yang diwakili oleh ketua pengawas, faktor-faktor SBM manakah yang berkaitan dengan prestasi murid. Juga mengkaji di mana kesenjangan yang terjadi dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan sebuah paradigma baru yang dikenalkan oleh pemerintah dalam upayanya untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Indonesia sesuai dengan UU Sisdiknas No. 23 Tahun 2004 yang menyebutkan bahwa sekolah dibangun atas Manajemen Otonomi Sekolah masing masing dengan penerapan Managemen Berbasis Sekolah.

Pengumpulan data lapangan dilakukan di 28 provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Riau, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat) yang mencakup 54 kabupaten/ kota, 400 Sekolah Dasar, dan 54 SMP Negeri.

Survei ini menyediakan data tentang berbagai hal mengenai Manajemen Berbasis Sekolah, mulai dari informasi yang berasal dari Dinas pendidikan, Dewan pendidikan, UPTD, Koordinator pengawas SD dan SMP, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, guru, hingga orang tua murid. (JF)